Share

Sosok Eks Dirut Garuda yang Terindikasi Korupsi Pesawat ATR, Emirsyah Satar? Ini Biodata dan Jejak Kariernya

Athika Rahma, Jurnalis · Selasa 11 Januari 2022 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 320 2530629 sosok-eks-dirut-garuda-yang-terindikasi-korupsi-pesawat-atr-emirsyah-satar-ini-biodata-dan-jejak-kariernya-peFSupJKuP.jpeg Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, adanya indikasi korupsi pengadaan pesawat ATR-72-600 di tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

Indikasi korupsi ini terjadi pada masa kepemimpinan Direktur Utama Garuda Indonesia periode 2005-2014. Meski tidak disebutkan secara gamblang, namun mantan Direktur utama PT Garuda Indonesia yang diduga terlibat dalam dugaan korupsi pengadaan pesawat ATR-72-600 berinisial ES.

Erick memastikan, indikasi korupsi pengadaan pesawat dengan kode saham GIAA itu bukanlah tudingan belaka. Namun, didasarkan atas bukti-bukti hasil investigasi.

Baca Juga: Erick Thohir Laporkan Eks Dirut Garuda Indonesia Dugaan Korupsi Pembelian Pesawat ATR-72-600

 

Sekadar informasi, pengadaan pesawat ATR 72-600 oleh Garuda Indonesia pertama kali diluncurkan pada 25 November 2013. Armada tersebut melayani rute-rute pendek dan sebagai penghubung (feeder).

Garuda melakukan pengadaan 35 pesawat ATR 72-600 melalui mekanisme sewa dengan perusahaan leasing asal Denmark yaitu Nordic Aviation Capital (NAC).

Pada saat pengadaan pesawat tersebut, jabatan Direktur Utama Garuda Indonesia sedang diduduki oleh Emirsyah Satar. Emir menjabat sejak 2005 sampai dia diberhentikan pada 8 Desember 2014.

Emirsyah sendiri sebenarnya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus pencucian uang. Lantas, siapa sebenarnya sosok Emirsyah ini?

 

Dikutip dari beragam sumber, Selasa (11/1/2022), Emirsyah Satar adalah ekonom kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959. Dirinya menimba pendidikan di Fakultas Ekonomi UI dan lulus pada 1986 lalu. Kemampuannya dalam bidang keuangan diawali dengan karir sebagai auditor di Pricewaterhouse Coopers.

Dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai Assistant of Vice President of Corporate Banking Group Citibank pada 1985. Periode 1990-1994, Emir menjadi General Manager Corporate Finance Division Jan Darmadi Group. Lalu, hingga Januari 1996, dirinya menduduki posisi Presiden Direktur PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta.

Pada tahun 1998 Emir didapuk menjadi Executive Vice President Finance (CFO) Garuda Indonesia. Selama menjabat sebagai CFO Garuda, Emir berperan penting dalam restrukturisasi keuangan perusahaan hingga 2001.

Di 2003, Emir pergi dari Garuda dan bergabung dengan Bank Danamon Tbk sebagai Wakil CEO Danamon. Namun, karirnya hanya bertahan 2 tahun saja di Danamon sebelum dirinya kembali lagi ke Garuda dan menduduki posisi Dirut. Emirsyah menjadi Dirut Garuda pada periode 2005-2014.

Di Garuda, Emirsyah berusaha memperbaiki kondisi keuangan perseroan yang rugi triliunan rupiah. Emir juga mencetuskan program Quantum Leap yang mengubah budaya serta cara kerja perusahaa. Hasilnya, perseroan tersebut mendapat kepercayaan lagi dari pelanggan.

Setelahnya, Emir mengundurkan diri pada 8 Desember 2014 dan menjabat sebagai Chairman MatahariMall.com.

Lalu pada 7 Agustus 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia 2005-2014 Emirsyah Satar (ESA) sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Emir diketahui menandatangani kontrak beberapa pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S, Rolls-Royce P.L.C, pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR) dan pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini