Share

Gara-Gara Perang Rusia vs Ukraina, RI Bisa Kena Getahnya

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Kamis 24 Februari 2022 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 24 320 2552612 gara-gara-perang-rusia-vs-ukraina-ri-bisa-kena-getahnya-fJ0qfatKcQ.jpg Perang Rusia Vs Ukraina bisa bikin RI kena getahnya. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Law and Economic Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan RI akan kena getahnya akibat perang Rusia-Ukraina.

Hal itu karena akan mengerek inflasi di Indonesia, dan ini dikhawatirkan menambah PR pemerintah dalam merubah APBN.

Diketahui, konflik antara Rusia dan Ukraina ini mendongkrak harga minyak dunia melonjak tembus US$ 100/barel.

Harga minyak brent melesat 2,85% menjadi US$ 100,07/barel.

 BACA JUGA:Serangan Rusia ke Ukraina terbesar di Eropa Sejak Perang Dunia II

Sementara jenis light Sweet WTI melompat 3,01% menjadi US$ 94,9/barel.

"Efek dari harga komoditas minyak mentahnya sudah tembus di atas 100 us dollar per barrel ini akan meningkatkan inflasi," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (24/2/2022).

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dia mengatakan, pengaruh melonjaknya harga minyak mentah tersebut akan membuat biaya pengiriman barang jauh lebih mahal.

Sehingga efeknya pada harga kebutuhan pokok semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin rendah, dan efek terhadap subsidi energinya juga akan membengkak cukup signifikan.

"Itu karena pada asumsi makro APBN, harga minyak hanya tercatat USD63 per bareel," imbuhnya.

"Jadi ini se-gap antara harga minyak yang ditetapkan dalam APBN maupun harga minyak mentah yang riil di lapangan sudah terlalu jauh maka imbasnya akan ada pembengkakan dari subsidi energi yang signifikan," tambahnya.

BACA JUGA:Konflik Rusia-Ukraina, Indonesia Ajak Dunia Fokus Pemulihan Ekonomi

Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan APBN guna menyesuaikan kembali beberapa indikator, khususnya nilai tukar rupiah dan juga inflasi.

"Karena inflasinya bisa lebih tinggi daripada perkiraan," ucapnya.

Selain itu, dia mengatakan, pemerintah juga perlu melakukan antisipasi, seperti melakukan tambahan dana PEN, yang mencakup stabilitas harga pangan.

Serta untuk menjaga stabilitas harga energi ke dalam komponen anggaran PEN.

"Karena ini mengancam pada stabilitas dan pemulihan ekonomi sepanjang 2022," tandasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini