Dia mengatakan, pengaruh melonjaknya harga minyak mentah tersebut akan membuat biaya pengiriman barang jauh lebih mahal.
Sehingga efeknya pada harga kebutuhan pokok semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin rendah, dan efek terhadap subsidi energinya juga akan membengkak cukup signifikan.
"Itu karena pada asumsi makro APBN, harga minyak hanya tercatat USD63 per bareel," imbuhnya.
"Jadi ini se-gap antara harga minyak yang ditetapkan dalam APBN maupun harga minyak mentah yang riil di lapangan sudah terlalu jauh maka imbasnya akan ada pembengkakan dari subsidi energi yang signifikan," tambahnya.
BACA JUGA:Konflik Rusia-Ukraina, Indonesia Ajak Dunia Fokus Pemulihan Ekonomi
Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan APBN guna menyesuaikan kembali beberapa indikator, khususnya nilai tukar rupiah dan juga inflasi.