Share

Naik 7%, Harga Minyak Capai Level Tertinggi di USD104,9/Barel

Antara, Jurnalis · Rabu 02 Maret 2022 07:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 320 2555000 naik-7-harga-minyak-capai-level-tertinggi-di-usd104-9-barel-e3RGJhkVXt.jpg Harga Minyak Mentah Naik. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak terus naik hingga lebih dari 7% atau sentuh level tertinggi sejak 2014. Harga minyak naik usai kesepakatan global untuk melepaskan cadangan minyak mentah gagal menenangkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan dari invasi Rusia ke Ukraina.

Anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang terdiri dari Amerika Serikat dan Jepang pun setuju melepaskan 60 juta barel minyak mentah dari cadangan mereka untuk mencoba meredam kenaikan tajam harga yang mendorong harga acuan utama melewati 100 dolar AS per barel.

Baca Juga: Rusia-Ukraina Perang, Harga Minyak Meroket 3,1% Tembus USD100,9/Barel

Namun, berita tentang rilis itu setara dengan konsumsi minyak dunia selama kurang dari satu hari. Jadi hanya menggarisbawahi ketakutan pasar bahwa pasokan tidak akan cukup untuk menutupi gangguan energi yang meningkat.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei melonjak USd7,00 atau 7,1% menjadi USD104,97 per barel atau menjadi penutupan tertinggi sejak Agustus 2014. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April terangkat USd7,69 atau 8,0% menjadi USD103,41 per barel.

Itu adalah penutupan tertinggi sejak Juli 2014 dan persentase kenaikan harian terbesar sejak November 2020.

Dalam perdagangan intraday, Brent mencapai tertinggi sejak Juli 2014 dan WTI tertinggi sejak Juni 2014. Selain minyak mentah, minyak pemanas AS dan bensin berjangka juga mencapai tertinggi sejak 2014.

Baca Juga: Harga Gandum hingga Minyak Bakal Terus Naik di Perang Rusia-Ukraina

Langkah militer Rusia di Kyiv, ibu kota Ukraina, terhenti ketika pasukannya berjuang dengan tantangan logistik termasuk kekurangan makanan dan bahan bakar. Dengan beberapa unit tampaknya dicengkeram oleh semangat rendah, seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan.

"Minyak memanjat tembok perang Ukraina karena khawatir," kata Mitra Again Capital, John Kilduff, dikutip dari Antara, Rabu (2/3/2022).

Dia mengatakan, para pedagang kecewa dengan besarnya pelepasan cadangan strategis.

Sanksi yang dipimpin AS terhadap Rusia sebagian besar tidak secara khusus menargetkan sektor energi, tetapi para pedagang menghindari perdagangan barel Rusia, yang mengarah ke diskon besar untuk minyak itu dan memperketat pasokan untuk jenis minyak mentah lainnya.

Perusahaan pelayaran terbesar di dunia, AP Moeller-Maersk A/S, menghentikan pergerakan peti kemas ke dan dari Rusia, sementara Inggris telah melarang semua kapal dengan koneksi Rusia memasuki pelabuhannya.

Perusahaan minyak dan gas besar, termasuk BP dan Shell PLC, telah mengumumkan rencana untuk keluar dari operasi dan usaha patungan Rusia, sementara TotalEnergies SA mengatakan tidak akan menginvestasikan modal lebih lanjut dalam operasinya di Rusia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini