Share

Harga Gandum hingga Minyak Bakal Terus Naik di Perang Rusia-Ukraina

Anggie Ariesta, Jurnalis · Senin 28 Februari 2022 20:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 28 320 2554128 harga-gandum-hingga-minyak-bakal-terus-naik-di-perang-rusia-ukraina-JSF4bqiASY.jpg Harga Komoditas di Pasar Meningkat Terdorong Perang Rusia-Ukraina. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Harga komoditas meningkat akibat invasi Rusia ke Ukraina. Kenaikan ini akan berlanjut sampai akhir Semester I-2022.

Konflik geopolitik menyebabkan sejumlah harga acuan komoditas seperti minyak mentah dunia melambung. Harga minyak dunia bergejolak dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Kelompok Hacker Patriotic Beraksi, Serangan Siber ke Ukraina Lumpuhkan Situs Pemerintah

Pekan lalu, harga acuan komoditas melampaui level tertinggi di atas USD100 per barel. Namun kemudian harga kembali anjlok.

Harga acuan Brent untuk pengiriman April, misalnya, anjlok USD1,15 atau 1,2 persen ke posisi USD97,93 per barel. Sedangkan untuk kontrak Mei, harga acuan menyusut menjadi USD94,12 per barel.

Baca Juga: Terdampak Perang Rusia-Ukraina, Sri Mulyani Harus Segera Atur APBN

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Maret turut turun USD1,22 atau 1,3 persen ke level USD91,59 per barel. Padahal harga minyak dunia itu sempat menembus rekor tertinggi di posisi USD95,64.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, selain harga minyak yang bergejolak, komoditas pangan dan produk untuk pertanian ikut terganggu. Hal itu karena Rusia merupakan produsen gandum dan pupuk, kedua produk itu mengalami kenaikan harga.

“Harapan bahwa harga pangan stabil karena pasokan meningkat tampaknya tidak terjadi. Harga pangan akan naik sampai eskalasi konflik berakhir,” ujar Bhima, dikutip Senin (28/2/2022).

Tak hanya dari sisi harga, operasi militer Rusia terhadap Ukraina membuat rantai pasok komoditas tersendat.

Barang-barang dari Rusia ke negara lain, misalnya, tidak akan didistribusikan secara langsung. Bhima melihat ada kemungkinan pengiriman barang impor dari Rusia lebih dulu melalui negara lain akibat adanya sanksi embargo ekonomi.

“Ini membuat Indonesia kalau membeli barang-barang impor akan diputar ke negara lainnya. Misalnya dari rusia ke Cina, baru ke Indonesia,” ucap Bhima.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini