Share

Awal Ramadan, Perajin Rebana Ini Langsung Kebanjiran Rezeki

Avirista Midaada, Jurnalis · Rabu 06 April 2022 10:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 06 455 2574069 awal-ramadan-perajin-rebana-ini-langsung-kebanjiran-rezeki-3s5TxIlQc1.jpg Perajin rebana alami kenaikan omzet saat Ramadan. (Foto: MPI)

MALANG - Perajin rebana kebanjiran pesanan saat memasuki bulan Ramadan tahun ini.

Padahal sebelumnya selama Ramadan pesanan yang datang hanya bisa dihitung dengan jari.

Salah satu perajin rebana di Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 5 RT 3 RW 1 Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang bernama Arief Priyadi mengaku, pesanan datang sudah sebelum bulan Ramadan.

 BACA JUGA:Laris Manis Penjual Sajadah hingga Mukena Tanah Abang Kantongi Rp70 Juta Sehari

Biasanya selama bulan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya dirinya hanya menerima servis rebana atau membuat rebana untuk stok yang dijual.

"Ramadan tahun ini meningkat saya sudah usaha sudah 9 tahun selama 8 tahun itu kalau Ramadan itu biasanya sepi malahan. Karena kegiatan berhenti libur, biasanya yang banyak orang-orang servis saja, yang tahun ini pesanan masih banyak, servisan masih banyak," kata Arief ditemui MNC Portal Indonesia, pada Kamis (6/4/2022).

Pria berusia 35 tahun ini mengungkapkan, saat ini ia melayani hampir 30 set rebana lengkap dari Malang dan sekitarnya.

Di menyebut pembeli biasanya memesan rebana satu set dengan dua versi baik dari versi Pekalongan yang memerlukan empat perangkat rebana, maupun versi Habib Syekh dengan sembilan perangkat rebana.

"Biasanya produksi untuk setelahnya Ramadan untuk syawal sama menjelang korbanan. Sekarang sebelum Ramadan saya sudah menerima pesanan, sudah produksi 30. Stoknya tapi nggak ada, hanya melayani pesanan saja," ungkap pria yang sudah membuat rebana selama sembilan tahun ini.

Para pembelinya kebanyakan dari sekolah - sekolah yang melakukan kegiatan di bulan Ramadan hingga kampung - kampung penduduk.

 BACA JUGA:Berkah Ramadan Bikin Pengusaha Cincau Untung Besar, Penjualan 5 Kali Lipat

Diakuinya semenjak adanya pelonggaran mobilitas, pemesan rebana mulai berdatangan kembali.

"Yang sering sekolahan, kampung-kampung juga, cuma yang paling banyak sekolah. Sekolah belinya langsung satu set, kadang tiga set, karena titip - titip. Kalau daerah Bantur itu SD kemarin (pesan) tiga set. Dari Malang aja yang banyak, kabupaten paling banyak, kota (Malang) ada tapi cuma sebagian. Ada dari luar kota, Kediri, Blitar, dekat-dekat Malang sini," terangnya.

Di mana satu set peralatan rebana lengkap dapat dikerjakan selama dua minggu.

Tapi kini guna memaksimalkan dan mempercepat produksi, industri rumahan pengerajin rebana ini bahkan sampai menambah pekerja menjadi empat orang.

"Biasanya (yang memproduksi) saya sama teman dua, sekarang nambah satu lagi. Jadi empat sama saya," jelasnya.

Dia membanderol harga satu rebananya mulai Rp200 ribu yang termurah hingga bahan yang paling bagus dari kayu nangka dan mahoni mencapai Rp350 ribu.

Selama ini bahan-bahan baku kayu untuk pembuatan rebana dia datangkan dari Blitar, Jepara, hingga Demak.

"Kalau yang murah harga Rp200 ribu itu kayu mangga. Tapi sudah jarang produksi, kalau nggak ada permintaan.(Bahannya) Belahan kulit kambing, kulit kambing betina, kalau jantan biasanya dipakai bedug kecil-kecil," bebernya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini