Share

Harga Minyak Merosot 4,1% akibat Peningkatan Covid-19 di Shanghai

Antara, Jurnalis · Selasa 26 April 2022 06:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 26 320 2585203 harga-minyak-merosot-4-1-akibat-peningkatan-covid-19-di-shanghai-XqrwVugzcC.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)

NEW YORK - Harga minyak anjlok hingga 4% ke level terendah pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak turun di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang prospek permintaan energi global karena penguncian Covid-19 berkepanjangan di Shanghai.

Minyak mentah berjangka Brent berjangka untuk pengiriman Juni anjlok USD4,33 atau 4,1% menjadi USD102,32 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni kehilangan USD3,53 atau 3,5% menjadi USD98,54 per barel.

Baca Juga: Naik 1,4%, Minyak Brent Dipatok USD108/Barel

Kedua kontrak acuan ditutup pada level terendah sejak 11 April setelah kehilangan hampir 5,0% minggu lalu. Sejak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 pada awal Maret, harga minyak telah jatuh sekitar 25 persen.

"Prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tahun ini di tengah kenaikan suku bunga AS telah menyebabkan revisi turun perkiraan permintaan minyak. Semakin lama perang Ukraina dan penguncian China tetap ada, semakin tinggi risiko bahwa pertumbuhan permintaan akan semakin lemah," ujar Analis di Konsultan Eurasia Group, dikutip dari Antara, Selasa (26/4/2022).

Baca Juga: Minyak Brent Meroket di Tengah Pemadaman Kilang di Libya

Pelemahan harga minyak juga karena investor menilai dampak Covid-19 pada prospek permintaan bahan bakar. Penguncian Covid-19 di Shanghai memasuki ke minggu keempat, ketika perintah untuk pengujian massal di distrik terbesar Beijing memicu kekhawatiran bahwa ibu kota China dapat ditakdirkan untuk nasib yang sama.

Harga minyak sangat turun karena China adalah importir minyak terbesar dunia.

Harga minyak juga berada di bawah tekanan di tengah tanda-tanda bahwa pemadaman pasokan menjadi agak lebih kecil. Menurut kementerian perminyakan Libya, ladang minyak yang ditutup karena blokade dapat melanjutkan produksi dalam hitungan hari.

Juga menekan minyak, dolar AS naik ke level tertinggi dua tahun terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya karena kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini