Share

Alasan KAI Pilih Impor Kereta Bekas Dibanding Beli Baru

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 09 Mei 2022 21:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 09 320 2591403 alasan-kai-pilih-impor-kereta-bekas-dibanding-beli-baru-apdJfmXlpy.jpg Ada Ribuan KRL Impor. (Foto: Okezone.com/KRL)

JAKARTA - PT KAI (Persero) mengungkapkan bahwa biaya pengadaan kereta api baru lebih mahal dibandingkan impor kereta bekas. KAI bersama PT INKA (Persero) pun tengah mengadakan 16 unit trainset Kereta Rel Listrik (KRL).

Meski begitu, Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo belum merinci berapa biaya yang dikeluarkan dalam pengadaan transet KRL ini. Menurutnya, anggaran pengadaan ini masih akan dibahas bersama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Mahal ya yang mahal baru, tapi hitungan per penumpangnya yang akan kita hitung bersama-sama dengan Kemenhub. Sehingga secara cost masih terlalu dini," ungkap Didiek saat ditemui di kawasan Kementerian BUMN, Senin (9/5/2022).

Baca Juga: Ogah Impor Kereta Bekas, Inka Produksi 16 Unit Trainset KRL

Meski biaya pengadaan 16 transet KRL diproyeksi sangat mahal, Didiek memastikan pihaknya tidak akan memberatkan keuangan negara dan masyarakat.

"Tapi pasti akan memperhatikan aspek ramah lingkungan efisien terjangkau bagi masyarakat," tutur dia.

Didiek juga menjelaskan proses pengadaan kereta KRL ini pun harus mempertimbangkan Public Service Obligation (PSO), sehingga anggaran yang akan digunakan masih dalam tahap perhitungan.

Baca Juga: Waduh! Ada 1.100 KRL Bekas di RI

"Karena untuk KRL itu kan ada skema PSO kita akan lakukan penghitungan, tentu tak akan memberatkan masy dan pemerintah," ucap dia.

Saat ini INKA dan KAI telah menyepakati kerja sama pengadaan trainset tersebut. Hal ini ditandai dengan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua entitas pelat metah ini.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut langkah kedua perseroan sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan impor rangkaian set kereta bekas dari negara lain.

"Jadi mereka ini akan melakukan pengadaan 16 unit kereta transet. Dimana ini merupakan satu terobosan, kita harapkan memang di Indonesia ini sistem kereta api yang sehat," kata dia.

Tiko mengakui bahwa impor rangkaian set kereta memang masih dominan saat ini. Sehingga, langkah INKA selaku perusahaan pelat merah yang memasifkan produksi kereta api sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo.

Dimana, arahan Kepala Negara bahwa produksi BUMN harus mengutamakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

"Harapannya produksinya pun bisa bertahap di Indonesia. Karena saat ini masih banyak kereta transet yang diimpor," ungkap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini