Share

IMF Ragukan Kebijakan Ekonomi Sri Mulyani, Apa Itu?

Michelle Natalia, Sindonews · Senin 18 Juli 2022 13:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 18 320 2631501 imf-ragukan-kebijakan-ekonomi-sri-mulyani-apa-itu-bEMx3FsloO.jfif IMF Ragukan Kebijakan Ekonomi Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Kurniasih MJ)

BALI - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan reformasi struktural menjadi salah satu fokus Indonesia dalam mengelola perekonomian termasuk untuk menangani kerawanan pangan dan energi, sehingga ketahanan dapat terjaga.

Hal itu dikarenakan proses pemulihan ekonomi dengan bauran kebijakan saat ini makin dipersulit akibat perang di Ukraina yang berdampak sangat serius pada harga pangan dan energi.

“Kami ingin membahas lebih banyak masalah struktural dalam perekonomian. Apakah ini terkait dengan infrastruktur, produktivitas, kualitas sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, serta hal-hal lain yang dapat meningkatkan produktivitas misalnya kebijakan di bidang riset dan inovasi,” ujar Sri, Senin (18/7/2022).

Baca Juga: Krisis Global, IMF Harap Presidensi G20 Indonesia Bisa Cari Solusinya

Sri menjelaskan bahwa krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 sangat berbeda dengan krisis keuangan Indonesia sebelumnya. Aktivitas perekonomian turun sangat dalam diakibatkan oleh masalah yang timbul dari sisi kesehatan, pendapatan masyarakat, dan menurunnya penerimaan negara akibat perekonomian yang terhenti.

Menanggapi hal itu, respons kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah dengan memungkinkan pelebaran defisit. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari 15 tahun, Indonesia menerapkan kebijakan fiskal yang tidak membiarkan defisit lebih dari 3%.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Surplus 26 Bulan Berturut-turut, IMF Sebut Ekonomi Indonesia Baik

“Hanya tiga tahun saja kebijakan fiskal memungkinkan defisit lebih dari tiga 3% dan Bank Indonesia dapat membeli obligasi pemerintah secara langsung. Hal itu diperlukan untuk mengatasi permasalahan kesehatan dan kemanusiaan atau sebagai upaya jaring pengaman sosial, ” terangnya

Terkait kebijakan tersebut, Sri mengakui bahwa telah menerima banyak pertanyaan termasuk dari lembaga pemeringkat.

“Termasuk IMF bertanya bukankah terlalu singkat untuk tiga tahun ini? Bagaimana Anda tahu bahwa pandemi akan berakhir dalam tiga tahun? Tidak ada yang tahu. Tapi saya pikir itu sangat penting untuk menautkan kredibilitas,” tutur Sri.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Sementara di sisi lain, Sri juga mengingatkan bahwa independensi bank sentral sangat penting dalam menjaga kredibilitas dan kemampuan untuk menahan banyak goncangan.

“Namun, kredibilitas hanya dapat dibangun dengan waktu, dan diuji dengan begitu banyak situasi nyata. Dalam waktu yang sangat sulit itu, Anda dapat menunjukkan apakah Anda memiliki otoritas fiskal dan kebijakan moneter yang kredibel,” ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini