Share

Cerita Jokowi saat Semedi Tolak Lockdown, Ekonomi RI Bisa Minus 17%

Clara Amelia, Okezone · Kamis 08 September 2022 06:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 07 320 2662965 cerita-jokowi-saat-semedi-tolak-lockdown-ekonomi-ri-bisa-minus-17-plrB7vFrDp.jpg Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Setpres)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sempat merenungi masalah lockdown saat pandemi Covid-19 menimpa Indonesia.

Menurutnya, dari banyaknya negara yang lockdown saat pandemi, Indonesia beruntung tidak menerapkan kebijakan lockdown.

"Dunia sekarang ini berubah sangat luar biasa. Pertama memang diawali pandemi, kita tahu semuanya dan kita beruntung saat itu awal-awal pandemi Indonesia tidak lockdown," ungkap Jokowi.

Jokowi menyebut dirinya tidak bisa memperkirakan jika pemerintah memutuskan untuk lockdown saat itu. Dirinya mengatakan bahwa terdapat 80% kabinet dan 80% rakyat yang minta untuk diterapkan lockdown. Jika lockdown diterapkan, hal itu akan berdampak pada ekonomi dan sosial politik.

“Saat itu saya semedi, saya endapkan betul apa benar harus melakukan itu (lockdown)?" kata Jokowi.

Dari situ, Jokowi memutuskan untuk tidak melakukan lockdown. Jokowi memperkirakan sebesar 17% akan minus jika Indonesia benar lockdown saat itu.

Melalui momen pandemi Covid-19, Jokowi menyebut Indonesia telah belajar menghadapi guncangan dan belajar mengkonsolidasikan kebijakan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Ormas bergabung dengan TNI/Polri, semua masyarakat bergerak, masyarakat melakukan konsolidasi. Hal seperti itu yang harus diteruskan karena perang, krisis energi, krisis pangan, dan krisis finansial. Ini yang paling bisa kita lakukan, mengkonsolidasikan dari atas sampai bawah karena saya meyakini landscape politik dan ekonomi akan berubah dan bergeser ke arah mana itu yang belum diketahui," jelasnya.

Menurut Jokowi, saat ini semua negara sedang diuji kemampuannya untuk menghadapi kondisi geopolitik global yang tidak jelas dan tidak dapat diperkirakan.

Dirinya akan menitipkan masalah ini ke ekonom dan mengingatkan bahwa kondisi geopolitik seperti saat ini, dibutuhkan pemikiran "Abu Nawas" yang cerdik dan lihai untuk hadapi krisis.

"Saya titip ke ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada, jangan menggunakan standar yang ada karena saat ini sangat tidak normal sehingga dibutuhkan pemikiran 'Abu Nawas', yang 'kancil-kancil'," kata Presiden.

Baca Selengkapnya: Cerita Jokowi Galau soal Lockdown: Saat Itu Saya Semedi, Apa Benar Harus Melakukan Itu?

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini