JAKARTA- Alasan kenapa mata uang Rusia naik menjadi sering banyak dibahas oleh beberapa negara. Saat ini, Gazprom Rusia mengatakan pada Selasa (6/9/2022) bahwa pihaknya telah menandatangani perjanjian untuk mulai mengalihkan pembayaran pasokan gas ke China ke yuan dan rubel, bukan dolar.
Perubahan ini merupakan bagian dari dorongan Rusia untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar Amerika Serikat (AS), euro, dan mata uang keras lainnya dalam sistem perbankan dan perdagangannya. Rusia seolah mempercepat perubahan ini sejak terkena sanksi Barat sebagai tanggapan atas invasinya ke Ukraina.
Berikut alasan kenapa mata uang Rusia naik ini akibat dari perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina rupanya membuat Amerika Serikat memberikan sanksi keapda Rusia. Sanksi tersebut membuat nilai rubel anjlok, bahkan lebih dari 101%.
Rubel kembali naik dengan angka 11 persen terhadap dolar AS dan telah melampaui kenaikan real Brazil. Presiden Vladimir Putin rupanya mampu memberikan kebijakan yang membuat mata uang Rusia kembali naik, meski sempat terpuruk.
Naiknya rubel dihasilkan dari beberapa tindakan dan kebijakan pemerintah guna mempertahankan mata uangnya dari sanksi AS. Kebijakan yang dimaksud adalah kontrol kapital.
Dalam kebijakan ini, Pemerintah Rusia mewajibkan bagi semua perusahaan Rusia untuk melakukan konversi terhadap 80% valuta asingnya menjadi rubel. Tak hanya itu, pemerintah Rusia juga memberikan perintah agar impor minyak dan gas oleh negara-negara Eropa dibayar menggunakan mata uang rubel.
Sebagai informasi, Pemerintah Rusia pada awalnya melarang warganya untuk mengirim uang ke luar negeri. Namun, kebijakan tersebut kemudian dilonggarkan dan warga Rusia kini boleh mengirim uang ke luar negeri dengan maksimal transfer sebesar USD 10.000 perbulannya untuk per individu.
Rubel menguat 6% menjadi ditutup pada USD97,7 di Moskow setelah menyentuh USD94,9 level terkuat sejak 2 Maret. Rubel ditutup naik 8,8% pada 96,5 di platform transaksi EBS. Kedua harga penutupan tersebut merupakan yang terkuat sejak Februari.
Adapun, bank sentral Rusia mengumumkan beberapa perdagangan pasar saham akan dilanjutkan pada 24 Maret setelah jeda hampir sebulan, dengan 33 sekuritas yang dimasukkan ke dalam indeks acuan IMOEX yang ditetapkan untuk diperdagangkan di Bursa Moskow untuk jangka waktu terbatas dan dengan larangan short selling.
Sejauh ini, bank sentral belum mengungkapkan ukuran intervensinya di pasar OFZ yang membantu menstabilkan harga dan memberikan likuiditas ekstra ke sistem keuangan. Terhadap euro, rubel naik 6% menjadi 108,01 di Moskow.
(RIN)
(Rani Hardjanti)