JAKARTA - Demonstrasi terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di berbagai belahan dunia.
Dilansir dari BBC di Jakarta, Rabu (19/10/2022), di mana kenaikan harga BBM ini mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perjalanan pribadi, distribusi barang-barang yang bisa menyebabkan kenaikan harga makanan, serta energi untuk pembangkit listrik dan alat pemanas.
Adapun di seluruh dunia para pendemo menuntut perubahan.
Mereka menuntut harga BBM dibuat lebih terjangkau atau tersedia.
BACA JUGA:4 Fakta Harga BBM Terbaru di RI hingga Vivo Siapkan Bensin Setara Pertalite
Bahkan, ada yang berdemo dengan damai dan ada juga yang menyerang pemerintah.
Sampai ada beberapa demo bahkan merenggut nyawa.
Seorang warga di sisi timur Freetown, ibu kota Sierra Leone bernama Khadijah Bah (16) terkena peluru nyasar di depan teras rumahnya.
Dia mengaku kalau memangs empat menyaksikan massa semakin banyak berkumpul untuk menentang kenaikan harga BBM.
Namun pada 10 Agustus, aksi protes berubah menjadi kekerasan.
Saat polisi bersenjata bentrok dengan pengunjuk rasa, peluru nyasar mengenai Khadijah.
Dia tersungkur dan tewas seketika.
Ibu Khadijah, Maria Sesay mengatakan masih berjuang untuk menerima kematian putrinya, yang masih duduk di bangku sekolah menengah.
Ibunya mengatakan Khadijah bercita-cita menjadi perawat.
"Saya sangat sedih. Saya berjuang keras untuk membesarkan anak perempuan saya, tapi sekarang dia sudah tiada. Sungguh menyakitkan," ujarnya dikutip BBC.
Diketahui juga, pada Agustus, ada 25 orang tewas, termasuk lima petugas polisi ketika bentrokan terjadi antara pengunjuk rasa dan polisi di ibu kota Sierra Leone, Freetown.
Di mana harga BBM yang sampai memecahkan rekor tertinggi memicu bentrokan di jalan.
Kekerasan seperti itu sudah bertahun-tahun tak terjadi lagi di negara kecil di Afrika barat ini.
Sebagai informasi, sejak Maret harga BBM di negara itu hampir dua kali lipat, dari 12.000 Leones (sekitar Rp14.640 pada saat itu) per liter, lalu melesat ke rekor tertinggi 22.000 Leones (sekitar Rp25.080 pada saat itu) pada Juli.
Hal itulah yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan harga pangan.
Kemudian, kekerasan bisa diredam setelah pihak berwenang menerapkan jam malam di seluruh kota.
Namun, internet juga dibatasi, sehingga para pendemo sulit untuk berkomunikasi dan merencanakan unjuk rasa berikutnya.
Presiden Sierra Leone, Julius Maada Bio, menyatakan demo-demo itu merupakan upaya kekerasan untuk menggulingkan pemerintahannya.
Banyak warga membantah hal ini, mengatakan kepada BBC bahwa mereka turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga BBM dan makanan.
Namun, Sierra Leone tidak berjuang sendiri untuk memprotes kenaikan harga dan biaya hidup.
Hal itu karena analisis data demonstrasi di seluruh dunia, yang dikumpulkan oleh Proyek Data Peristiwa dan Lokasi Konflik Bersenjata (Acled), BBC mendapati bahwa antara Januari dan September tahun ini, lebih dari 90 negara dan wilayah diguncang demo terkait harga atau ketersediaan BBM.
Sepertiga di antaranya adalah negara-negara yang pada 2021 lalu tidak ada demo BBM, seperti Spanyol.
Sepanjang 2021 tidak ada demo BBM di negara itu, tetapi sebanyak 335 demonstrasi berlangsung pada Maret 2022 saja.
(Zuhirna Wulan Dilla)