JAKARTA – Pedagang bakso gerobakan, Yono mengakui bahwa pandemi Covid-19 bedampak sangat besar pada usahanya. Sebab pembeli bakso sepi sekali.
Penjualan Yono menurun akibat Covid-19 yang ketika itu meluas. Ditambah lagi aturan yang melarang penjualan saat pandemi.
“Susah mas kalau situasi pandemi waktu itu, enggak boleh jualan di mana-mana banyak larangannya,” ucap Yono kepada Okezone.
Pendapatan Yono setiap hari tergerus karena pemebeli sepi sehingga ketersediaan bakso di gerobak dikurangi.
“Bisa habis semua mas bakso sebelum pandemi. Beda pas dateng pandemi jadi dikit stok saya karena enggak ada yang beli,” ucapnya.
Dia mengakui, pendapatan kotor sebelum pandemi mencapai Rp2 juta per hari. Bahkan pernah sampai Rp5 juta lantaran ada orderan ratusan pesanan.
Berbanding terbalik saat Covid-19, di mana pendapatan menurun drastis. Dia mengungkapkan hanya mendapatkan pendapatan kotor Rp500 ribu per hari.
Oleh sebab itu, keuntungan yang didapatkan tidak sebanyak sebelum pandemi datang.
Namun di balik permasalahan tersebut, Yono memutar otaknya demi kemajuan usahanya saat pandemi. Salah satu inovasi yakni menambah metode pembayaran menjadi 2 di antaranya tunai dan pembayaran digital.
Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi adanya isu penyebaran Covid-19 melalui uang tunai.
Hgga saat ini pun Yono tetap mempertahankan metode pembayaran digital. Salah satu yang banyak digunakan oleh pembelinya sekarang yakni QRIS BRI.
Dia mengaku adanya metode ini membuat pembayaran menjadi mudah.
“Gampang banget tinggal tempel, ada ini saya enggak perlu lagi cari-cari kembalian uang kecil lagi,” ucapnya
Kini pendapatan Yono pasca pandemi semakin membaik bahkan sudah bisa menyentuh pendapatan kotor saat sebelum pandemi.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.