JAKARTA - Industri Information and Communication Technology (ICT) di Indonesia tumbuh sangat atraktif. Hal ini serupa dengan pertumbuhan industri ICT secara global.
Presiden Direktur Digiserve by Telkomsel Ahmad Hartono menyampaikan bahwa pada tahun 2024, pasar ICT, khususnya pada B2B di segmen enterprise tumbuh di kisaran 9,3% dengan sizing market kurang lebih Rp155,6 triliun.
“Saya kira trend-nya sama kayak di global maupun di regional ya. Di Indonesia pun saat ini market ICT itu tumbuh sangat atraktif. Data menunjukkan bahwa di tahun 2024 ini, market ICT, khususnya untuk yang B2B, di segmen enterprise tumbuh di kisaran 9,3% dengan seising market kurang lebih sekitar 155,6 triliun,” kata Ahmad dalam acara Chief Talk Okezone, Kamis (7/3/2024).
Meskipun begitu, tak dipungkiri bahwa tantangan industri ICT begitu besar. Mulai dari telekomunikasi, digitalisasi, hingga mapping yang harus dilakukan sedemikian rupa.
Salah satu tantangannya, menurut Ahmad adalah dari sisi marketnya sendiri yang sangat besar. Hal ini mencakup para pemain yang terjun langsung, baik pemain lokal Indonesia, maupun pemain di global.
“Challenges-nya adalah kalau kita lihat dari sisi marketnya sendiri yang sangat besar. Tentu saja ini akan sangat menarik bagi pemain lokal di Indonesia maupun pemain di global,” ujar Ahmad.
Selanjutnya, Ahmad juga telah memetakan tiga tantangan yang para pelaku industri ICT rasakan. pertama, saat customer mulai cerdas literasi ICT-nya, semakin bagus tuntutannya, dan juga semakin banyak kebutuhan marketnya, khususnya dalam bidang enterprise.
Menurut Ahmad, dengan perilaku customer yang seperti itu, para pelaku ICT tidak lagi melayani customer dengan apa yang para miliki, namun memberikan apa yang dibutuhkan oleh customer.
“Yang pertama adalah customer kita itu, terutama enterprise, mulai semakin cerdas literasi ICT-nya, semakin bagus tuntutannya, juga semakin banyak kebutuhan market. Sekarang itu sudah mulai sangat terkustomisasi, jadi sekarang ini tidak bisa lagi pelaku ICT industri itu memberikan customer dengan layanan yang kami miliki, tapi lebih kepada apa yang dibutuhkan oleh customer,” jelasnya
“Dan bagaimana kami mensolusikannya. Jadi, kata kuncinya adalah semua pemain ICT harus lebih inovatif,” tambahnya.
Yang kedua, menurut Ahmad adalah tren teknologi. Saat ini, tren teknologi sangat berkembang pesat. Bahkan dalam jangka waktu dua sampai tiga tahun, teknologi bisa menjadi absolut.
Jika dulu, ketika membuat bisnis plan yang konvensional membuat depresiasi antara 5 sampai 10 tahun. Saat ini sudah tidak bisa dilakukan karena kalau masih berpedoman pada hal tersebut, akan terjadi kerugian yang sangat besar.
Ahmad menjelaskan, untuk mengatasi kondisi tersebut dengan cara melakukan strategic partnership dengan pemilik teknologi itu sendiri. Dengan begitu, para pelaku ICT industri tidak dapat bermain sendiri.
“Mau tidak mau, kita harus melakukan yang namanya strategic partnership dengan pemilik teknologi itu sendiri. Jadi, kita nggak bisa lagi lagi dengan model bisnis seperti dulu, kita bermain sendiri, terus kita beli, dan lain sebagainya. Strategic partnership adalah kata kunci yang kedua,” ujarnya.
Yang ketiga membahas mengenai internal korporasi masing-masing. Para korporasi ICT industri harus terus menerus melakukan improvement dalam internalnya. Dengan banyaknya produk dan layanan yang dipesan kepada customer, membutuhkan platform IT yang semakin berbeda-beda. Dan sebuah korporasi harus mampu mengintegrasikan IT tersebut.
Sehingga, para pelaku ICT industri dituntut untuk memiliki kapabilitas dan kompetensi yang terus-menerus di improve.
“Yang ketiga, di internal korporasi sendiri. Para korporasi ICT industri harus terus menerus melakukan improvement dalam internalnya. Dengan banyaknya produk dan layanan yang dipesan kepada customer, membutuhkan platform IT yang semakin berbeda-beda. Dan sebuah korporasi harus mampu mengintegrasikan IT tersebut. Sehingga, para pelaku ICT industri dituntut untuk memiliki kapabilitas dan kompetensi yang terus-menerus di improve,” jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)