JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini melonjak 16,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan laba yang signifikan ini sejalan dengan total aset perseroan yang kini mencapai Rp527,79 triliun, melampaui target awal tahun yang dipatok pada angka Rp500 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pencapaian ini adalah buah dari transformasi bisnis yang efisien dan disiplin. BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini.
"Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon dalam paparan kinerja BTN di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Kinerja laba BTN didorong oleh efisiensi beban bunga yang hanya naik 0,4 persen, sementara pendapatan bunga melonjak 23 persen menjadi Rp36,33 triliun. Kondisi ini membuat margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) BTN melesat ke level 4,2 persen, naik 133 basis poin dari tahun sebelumnya.
Di sisi penyaluran kredit, BTN mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 11,9 persen menjadi Rp400,57 triliun. Sektor perumahan tetap menjadi mesin utama dengan kontribusi sebesar Rp328,4 triliun. Menariknya, produk baru pemerintah yakni Kredit Program Perumahan (KPP) yang baru meluncur Oktober 2025, langsung menyumbang Rp2,6 triliun.
“KPP menjadi mesin baru untuk mendorong pertumbuhan kredit BTN serta menawarkan profitabilitas yang lebih baik karena marginnya yang lebih tinggi dibandingkan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Kami berharap program ini dapat menjadi solusi bagi wirausaha yang membutuhkan rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha mereka,” tutur Nixon.
Kepercayaan nasabah tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 14,6 persen menjadi Rp437,39 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh meledaknya penggunaan superapp Bale by BTN yang usernya tumbuh 66,1 persen menjadi 3,7 juta pengguna. Nilai transaksi melalui aplikasi ini pun menembus angka Rp103,6 triliun.
Nixon menekankan bahwa Bale bukan sekadar aplikasi perbankan, melainkan ekosistem solusi keuangan bagi keluarga.
“Nominal saldo rata-rata pengguna Bale lebih tinggi, sehingga turut mendorong pertumbuhan DPK BTN terutama transaksi dana murah. Kami akan terus mendorong positioning Bale sebagai superapp yang menawarkan ekosistem terintegrasi untuk solusi transaksi keuangan keluarga, baik yang terkait dengan kebutuhan perumahan maupun berbagai macam lifestyle lainnya,” jelasnya.
Selain kinerja bank induk, BTN juga sukses mendirikan Bank Syariah Nasional (BSN) yang kini menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia dengan aset Rp73 triliun.
Di sisi risiko, BTN berhasil menekan rasio kredit bermasalah (NPL Gross) ke level 3,1 persen. Perseroan juga memperkuat benteng pertahanan dengan meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) ke level 20,9 persen.
“Dengan langkah Beyond Mortgage, BTN terus memantapkan aspirasinya untuk menjadi consumer bank yang memberikan solusi finansial terintegrasi bagi seluruh kebutuhan nasabah, sekaligus menjalankan mandat pemerintah untuk mendukung pembangunan perumahan nasional melalui akses pembiayaan kepemilikan rumah yang terjangkau bagi semua segmen masyarakat. Melalui aspirasi ini, BTN berharap dapat memberikan value creation bagi kesejahteraan rakyat dan perekonomian secara keseluruhan,” pungkas Nixon.
(Dani Jumadil Akhir)