Ahli polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mochamad Chalid, pernah menjelaskan bahwa galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat memiliki batas usia pakai yang harus diperhatikan. Galon guna ulang, menurut Profesor Chalid, sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali pengisian ulang atau setara satu tahun. "Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan makin tinggi,” jelasnya.
BPA adalah bahan kimia pembuat plastik polikarbonat yang mampu meniru hormon sehingga berpotensi mengganggu sistem hormon manusia.
Paparan dalam jangka panjang dari BPA ini telah dikaitkan oleh berbagai riset ilmiah dengan sejumlah risiko kesehatan serius, mulai dari gangguan kesuburan dan reproduksi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga peningkatan risiko kanker payudara, prostat, dan usus besar.
Menurut Novita, persoalan galon guna ulang tersebut kian diperparah oleh lemahnya pengawasan pada tahap distribusi.
Kualitas air yang semula memenuhi standar di pabrik seringkali merosot tajam ketika sampai di tingkat agen, penjual eceran, dan konsumen.
Novita menyoroti praktik di lapangan di mana banyak galon dijemur terlalu lama di bawah terik sinar matahari.
Paparan panas matahari tersebut, menurutnya, akan memicu perpindahan bahan kimia berbahaya dari galon ke dalam air, sehingga produk yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi konsumen.
“Kualitas air itu sering menurun bukan di pabriknya tapi karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari karena stok di agen-agennya, karena ada migrasi kimia dari plastik ke air,” paparnya.
(Taufik Fajar)