Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tol Cibitung–Cilincing Belum Optimal, Tarif Rp70 Ribu Jadi Sorotan

Feby Novalius , Jurnalis-Sabtu, 28 Februari 2026 |16:29 WIB
Tol Cibitung–Cilincing Belum Optimal, Tarif Rp70 Ribu Jadi Sorotan
Jalan Tol (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pemanfaatan Jalan Tol Cibitung–Cilincing yang terhubung langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok dinilai belum optimal, meski digadang-gadang menjadi jalur utama distribusi logistik dari kawasan industri Cikarang, Bekasi, hingga Karawang menuju pelabuhan.

Hingga kini, jumlah kendaraan yang melintas setiap hari tercatat sekitar 8.000 unit, angka yang dianggap masih jauh di bawah kapasitas tersedia, sehingga mendorong desakan agar pengelola segera mengambil langkah konkret untuk meningkatkan utilisasi, terutama melalui penyesuaian dan integrasi tarif guna menekan biaya angkutan serta mengurai kepadatan di ruas tol alternatif.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria menilai,  Direksi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) harus segera mengambil langkah konkret agar Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kendaraan angkutan logistik.

Menurut Sofyano, keberadaan Tol Cibitung–Cilincing yang terhubung langsung ke kawasan Pelabuhan Tanjung Priok seharusnya menjadi solusi utama kelancaran distribusi barang dari kawasan industri Cikarang, Bekasi, hingga Karawang menuju pelabuhan. 

“Perlu berupaya serius mencarikan solusi agar Tol JTCC benar-benar menjadi jalur utama logistik. Salah satu persoalan utama adalah tarif yang dinilai masih mahal, sekitar Rp70.000 per unit kendaraan untuk golongan tertentu. Ini membuat banyak operator logistik memilih jalur lain,” ujar Sofyano, Sabtu (28/2/2026). 

Ia menegaskan, Pelindo memiliki kepemilikan saham pada ruas tol JTCC tersebut sehingga memiliki kepentingan langsung untuk mendorong optimalisasi pemanfaatannya. Karena itu, manajemen Pelindo didorong untuk mengupayakan adanya pemberlakuan tarif terintegrasi dengan jaringan tol lainnya agar biaya yang ditanggung pengusaha angkutan menjadi lebih efisien.

“Ini perlu dibicarakan serius dengan pihak Pemerintah dan juga pihak terkait sehingga soal tarif ini bisa dipecahkan.Keberhasilan mengatasi “masalah” yang ada yakni terkait Tarif yang dinilai mahal, akan sangat di apresiasi publik” tambah Sofyano. 

Sofyano juga menyebutkan, selama ini jumlah pengguna harian JTCC masih jauh dari potensi maksimalnya. Kondisi sepinya pengguna JTCC, lanjutnya, berdampak pada semakin padatnya ruas Tol Cikampek dan Tol Cakung–Cilincing (Cacing) Cikarang yang tetap menjadi pilihan utama kendaraan logistik.

 

“Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di jalur-jalur tersebut, waktu tempuh menjadi lebih lama, konsumsi bahan bakar meningkat, dan biaya logistik semakin tinggi,” jelasnya.

Ia menilai, kemacetan yang berlarut-larut tidak hanya merugikan pelaku usaha, tetapi juga berdampak pada perekonomian nasional. Biaya logistik yang tinggi akan berujung pada naiknya harga barang, menurunnya daya saing industri, serta terhambatnya arus distribusi ekspor-impor, tegas Sofyano lagi.

Sofyano menegaskan, integrasi tarif Tol JTCC menjadi langkah strategis untuk mendorong pemerataan arus kendaraan, mengurangi kemacetan, serta menekan biaya logistik nasional. “ Pemerintah dan juga Pelindo harus melihat ini sebagai investasi jangka panjang untuk efisiensi dan daya saing ekonomi nasional,” pungkasnya.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement