Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengusaha Hiburan Waspadai Dampak Perang terhadap Wisata Jakarta

Feby Novalius , Jurnalis-Kamis, 12 Maret 2026 |08:25 WIB
Pengusaha Hiburan Waspadai Dampak Perang terhadap Wisata Jakarta
Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (ASPIJA) buka suara terkait potensi dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran . (Foto: Okezone.com/Asphija)
A
A
A

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (ASPIJA) buka suara terkait potensi dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap sektor pariwisata. Meski belum terasa signifikan, pelaku usaha menilai situasi global dan kondisi geopolitik berpotensi memengaruhi kunjungan wisata, termasuk ke Jakarta.

"Hingga saat ini belum terlihat dampak signifikan terhadap kunjungan wisata di Jakarta," ujar Ketua Umum ASPIJA Kukuh Prabowo, Kamis (12/3/2026).

Penyesuaian Jam Operasional

Sementara itu, aktivitas usaha hiburan juga masih menyesuaikan aturan selama bulan suci Ramadan, termasuk pembatasan jam operasional.

“Sekarang masih dalam suasana Ramadan sehingga jam operasional lebih pendek. Jadi kita belum bisa menilai apakah ada penurunan atau tidak. Mungkin setelah Ramadan baru bisa terlihat,” katanya.

Kukuh pun mengimbau seluruh anggota ASPIJA untuk mematuhi aturan yang berlaku selama bulan Ramadan, termasuk terkait pembatasan jam operasional tempat hiburan.

“Kami mengimbau seluruh anggota untuk mematuhi aturan selama Ramadan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan Satpol PP agar semua berjalan sesuai aturan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Kukuh mengungkapkan para pengusaha hiburan juga masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait penyesuaian besaran royalti yang hingga kini dinilai belum memiliki kepastian perhitungan.

ASPIJA berharap pihak yang mengelola royalti dapat membuka ruang dialog dengan pelaku usaha agar kebijakan yang diterapkan dapat lebih jelas dan adil.

“Kami tentu siap membayar royalti, tetapi perlu ada diskusi yang baik agar perhitungannya jelas dan adil. Jangan sampai aturan dibuat tanpa melibatkan pelaku usaha yang memahami kondisi di lapangan,” ujarnya.

 

Selain itu, ia juga menilai pentingnya keterlibatan pelaku usaha dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan industri hiburan di Jakarta agar regulasi yang dibuat tidak justru merugikan pelaku usaha.

“Kami ingin ke depan setiap kebijakan yang menyangkut industri hiburan melibatkan asosiasi sehingga pemerintah juga mendapat gambaran dampak kebijakan tersebut terhadap dunia usaha,” kata Kukuh.

Jakarta Kota Global

Para pelaku usaha juga berkomitmen mendukung Jakarta menjadi kota global. Pasalnya, Jakarta dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi hiburan internasional yang mampu bersaing dengan kota-kota besar di Asia Tenggara seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok.

“Kami ingin membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan Jakarta sebagai destinasi global. Saat ini kami akui masih tertinggal dibanding kota-kota tetangga, sehingga perlu upaya bersama agar sektor hiburan di Jakarta bisa berkembang lebih baik,” ujarnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement