Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketum Kadin Siapkan Strategi Hadapi Investigasi Tarif AS

Tangguh Yudha , Jurnalis-Selasa, 17 Maret 2026 |13:30 WIB
Ketum Kadin Siapkan Strategi Hadapi Investigasi Tarif AS
Ketum Kadin (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengimbau pelaku usaha untuk tetap tenang namun waspada terkait investigasi perdagangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) meski Negeri Paman Sam itu merupakan pasar surplus terbesar bagi Indonesia. 

Hal tersebut diungkapkan Anindya usai melakukan koordinasi intensif dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Tenaga Kerja.

"Kita tahu Amerika ini pasar kedua terbesar Indonesia, tapi terbesar dari sisi surplus buat Indonesia. Jadi benar-benar kita harus sikapi dengan bijak," kata Anindya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (17/3/2026).

Anindya menjelaskan bahwa investigasi ini merupakan dinamika internal AS, khususnya setelah Mahkamah Agung AS mengeluarkan keputusan yang berbeda dengan kebijakan tarif Presiden Trump. Indonesia kini fokus mengklarifikasi dua isu utama yaitu kerja paksa (forced labor) dan kelebihan kapasitas produksi (dumping).

Terkait isu tenaga kerja, Anindya menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan memperkuat regulasi untuk membuktikan bahwa produk Indonesia bebas dari praktik kerja paksa.
"Ada dua isunya, yang pertama adalah forced labor. Yang mengatakan bahwa apakah benar Indonesia ada pemaksaan tenaga kerja yang tidak ada. Nah ini kalau kita lihat sebenarnya yang dituju adalah negara mitra dagang Indonesia lainnya yang mengimport barang baku," jelas Anindya.

"Tadi Pak Menteri Perdagangan akan memberikan suatu regulasi yang menggarisbawahi bahwa ini tidak diperbolehkan suatu memasang target kerja untuk barang yang di export oleh Indonesia atau diimpor oleh Indonesia," imbuhnya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement