Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rakyat di Desa Bisa Jadi Korban Imbas Rupiah Melemah meski Tak Pakai Dolar AS

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Minggu, 17 Mei 2026 |13:50 WIB
Rakyat di Desa Bisa Jadi Korban Imbas Rupiah Melemah meski Tak Pakai Dolar AS
Rakyat di Desa Bisa Jadi Korban Imbas Rupiah Melemah meski Tak Pakai Dolar AS (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus Rp17.600 per dolar AS akan memberikan dampak. Salah satu dampak yang akan terasa naiknya harga pangan yang bahan bakunya dari impor, meski rakyat di desa tidak memakai dolar AS.

Pengamat pertanian dan pangan Khudori mengatakan, saat ini sejumlah komoditas pangan masih impor. Misalnya gandum sebagai bahan baku mie instan, roti, tepung terigu dan lain sebagainya, masih 100 persen impor, gula industri masih impor sekitar 3-3,5 juta ton per tahun.

Selain itu, kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe yang dijual di pasar, lebih dari 80 persen impor. Bawang putih sebagai bumbu dapur yang umum digunakan seluruh dapur, 98 persen masih impor. Kemudian daging sapi hampir setengah kebutuhan nasional impor, susu sekitar 80 persen. Garam industri juga sepenuhnya masih impor.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi shock tambahan bagi nasib harga jual produk akhir pangan, baik untuk masyarakat di kota maupun di desa. Konflik yang terjadi di timur tengah saat ini membuat importir harus mengeluarkan uang lebih besar untuk mendatangkan barang ke Indonesia maupun.

Menurut Khudori, konflik di Timur Tengah yang saat ini masih berlangsung menjadi shock pertama bagi harga pangan. Memberikan dampak terhadap biaya transportasi laut, premis asuransi pengiriman, hingga adanya tambahan biaya untuk ongkos logistik impor.

Sementara di satu sisi, importir perlu menukarkan dolar untuk membeli dan mendatangkan komoditas dari luar. Ketika harga dolar sedang menguat, maka perlu lebih banyak Rupiah yang ditukarkan sebelum membeli komoditas tersebut.

"Memang ketika Rupiah mengalami depresiasi, pukulannya jadi dua kali karena barang impor dibayar dalam mata uang asing. Memang benar masyarakat desa tidak menggunakan dolar, tetapi dampak tidak langsung tetap kena," ujar Khudori saat dihubungi Okezone, Jakarta, Minggu (17/5/2026).

 

Khudori mengatakan, ada beberapa dampak yang dihadapi oleh sektor pertanian dari pelemahan nilai tukar dan konflik yang terus berlangsung di timur tengah. Seperti biaya belanja BBM alat mesin pertanian menjadi meningkat karena pemerintah menaikkan harga BBM industri mengikuti harga minyak dunia.

Belanja BBM yang meningkat tadi kemudian membuat ongkos distribusi hasil pertanian juga ikut mengalami kenaikan. Sebab perusahaan perlu mempertimbangkan margin dan cash flow untuk menyikapi beban biaya operasi yang dikeluarkan.

"Kalau stabilitas nilai tukar lebih terjaga dan volatilitasnya tidak terlalu tinggi, itu sebenarnya bisa menjadi bantalan menghadapi gejolak di Timur Tengah. Itu menunjukkan fondasi ekonomi domestik kita perkuat," kata Khudori.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement