Pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per USD.
Menurut Hamid, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50% kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.
“Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” kata Hamid di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Di sisi lain, Rupiah yang anjlok hingga Rp17.600 menjadi pukulan telak bagi industri manufaktur Tanah Air. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku hingga barang modal impor membuat ongkos produksi pabrikan membengkak drastis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut tidak hanya disebabkan oleh selisih kurs semata. Rantai pasok global yang terganggu sejak meletusnya perang pada Februari lalu telah mengerek biaya logistik, asuransi, hingga harga komoditas penolong seperti plastik dan energi, yang pada akhirnya membebani operasional industri.
Tekanan berat yang menimpa sektor ini tercermin pada laju Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas pabrik tersebut terus merosot dan pada akhirnya berbalik mengalami kontraksi pada April lalu.
Situasi pelik ini memaksa pabrikan memutar otak karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasaran. Daya beli masyarakat yang melemah membuat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.
“Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat ini. Artinya, dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar sangat krusial untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Sabtu (16/5/2026).
Jika dibiarkan tanpa intervensi perlindungan, tren pelemahan ini berisiko memicu gelombang penutupan pabrik. Pasalnya, kondisi setiap subsektor dalam industri manufaktur berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan.
Pemerintah diminta turun tangan dengan tidak menambah beban baru berupa pungutan pajak bagi sektor yang sedang terpuruk, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebijakan pemberian insentif yang selektif dan tepat sasaran dinilai dapat menjadi penyelamat bagi industri strategis yang menyerap banyak tenaga kerja.
“Kan industri manufaktur ini tidak bisa disamakan semuanya, ada yang masih bagus, ada yang sudah berdarah-darah. Jadi yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengantisipasi agar mereka tidak sampai bangkrut, kemudian melakukan PHK,” ujar Faisal.
4. Purbaya Bantu Jaga Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa siap membantu menjaga nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang kini menembus Rp17.500 per USD. Namun, kata Purbaya proses penguatan nilai tukar Rupiah melalui intervensi pemerintah membutuhkan waktu.
Purbaya menegaskan bahwa dukungan Kementerian Keuangan tidak dilakukan melalui intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui penguatan pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau bond market. Purbaya menilai bahwa stabilitas di pasar obligasi merupakan kunci agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak semakin dalam.
"Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market," ujar Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Langkah stabilisasi ini dilakukan secara perlahan guna memastikan imbal hasil obligasi tetap menarik bagi investor. “Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," katanya.
Di sisi lain, Purbaya meminta masyarakat tidak perlu panik mengenai kondisi nilai tukar Rupiah saat ini "Enggak (perlu panik). Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin," ujar Purbaya.
Purbaya menegaskan, fondasi ekonomi Indonesia bagus dan percaya pemerintah dapat memperbaiki kondisi saat ini. Bahkan, dirinya menegaskan, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis 1998.
"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan fondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.