Sementara, BPS mengungkap penentuan kelompok atau peringkat desil tingkat kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan pendekatan multidimensional. Dalam prosesnya, terdapat 39 variabel yang digunakan untuk menentukan peringkat tersebut.
"Untuk pemeringkatan itu kan multidimensional ya tadi. Multidimensional. Jadi kita nggak pernah gunain single variabel untuk desil itu enggak pernah, ada 39 (variabel)," kata Nashrul.
Namun, BPS tidak membuka secara rinci bobot penilaian dari masing-masing variabel tersebut. Nashrul mengatakan, kebijakan itu dilakukan untuk mencegah potensi manipulasi data oleh pihak tertentu agar masuk ke kelompok desil tertentu.
"Kenapa kemudian bobotnya itu nggak boleh setransparan mungkin, bisa jadi nanti ada moral hazard, gitu. 'Oh, saya kecil-kecilin deh, saya nggak punya semua aja deh', gitu. Padahal yang namanya desil itu kan peringkat relatif tadi ya," sambung dia.
Meski bobot setiap variabel tidak dipublikasikan, Nashrul memastikan masyarakat tetap dapat mengecek kesesuaian data tingkat kesejahteraan mereka. Masyarakat juga dapat mengajukan sanggahan atau usulan apabila data yang tercatat dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
"Justru dengan kanal yang sekarang itu kan bisa dilihat sendiri tuh datanya. Misalnya mbaknya, sekarang datanya itu apakah sudah sesuai atau tidak. Itu sudah bisa dilihat nih data-data yang ada di kanal sekarang dengan data real-nya," tutup dia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.