Selain menghasilkan produk olahan, industri tersebut dirancang untuk memanfaatkan hampir seluruh bagian tanaman kelapa. Mulai dari daging dan air kelapa hingga tempurung dan sabut akan diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pada fase pertama, perusahaan diproyeksikan menyerap sekitar 184.000 ton kelapa per tahun. Kapasitas tersebut akan meningkat seiring dengan pengembangan industri hingga mencapai kebutuhan bahan baku yang setara dengan 500 juta butir kelapa per tahun saat beroperasi penuh.
Skala industri tersebut juga membuka peluang keterlibatan petani dan masyarakat dalam rantai pasok. Pemerintah memperkirakan hingga 10.000 orang dapat terlibat dalam ekosistem industri tersebut.
Rosan menekankan pentingnya memastikan petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mendapatkan manfaat dari berkembangnya industri hilir kelapa.
Karena itu, pemerintah mendorong adanya kepastian pembelian hasil panen dengan harga yang adil, dukungan peremajaan kebun rakyat, serta peningkatan keterlibatan UMKM dan pemasok lokal dalam rantai pasok industri.
Dari sisi ketenagakerjaan, PT Freenow Food Industry pada fase pertama diperkirakan menyerap hampir 2.900 tenaga kerja. Pemerintah juga membuka peluang bagi Zhenshi Holding Group untuk memperluas investasi di Indonesia, baik pada sektor yang telah berjalan maupun sektor strategis lainnya.
Masuknya investasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat industri pengolahan kelapa nasional, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang menghubungkan perkebunan, industri pengolahan, UMKM, hingga pasar ekspor.
Dengan demikian, hilirisasi kelapa di Morowali menjadi salah satu upaya untuk mengubah komoditas kelapa dari sekadar bahan mentah menjadi produk industri bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.