Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gudang Garam Komit Bagi Dividen meski Penjualan Tertekan Gempuran Rokok Ilegal

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Kamis, 10 September 2026 |13:59 WIB
Gudang Garam Komit Bagi Dividen meski Penjualan Tertekan Gempuran Rokok Ilegal
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih berkomitmen membayar dividen kepada pemegang saham setiap tahun di tengah tekanan volume penjualan. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih berkomitmen membayar dividen kepada pemegang saham setiap tahun di tengah tekanan volume penjualan akibat maraknya peredaran rokok ilegal.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman, mengakui bahwa di tengah tekanan penjualan dan kapasitas produksi perseroan, terdapat penurunan beban kewajiban akibat berkurangnya pinjaman kepada bank serta biaya operasional yang dikeluarkan.

"Ke depan, yang kita syukuri sekarang adalah pinjaman kita relatif atau sangat rendah. Kalau memang duit itu tidak diperlukan, tentu akan dipertimbangkan untuk membayar dividen," ujarnya dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Pada akhir periode pelaporan, rasio gearing perseroan (total liabilitas terhadap ekuitas) semakin membaik dari 30,7% menjadi 21,5%. Total liabilitas menurun 26,4%, terutama disebabkan oleh penurunan pinjaman jangka pendek sebesar Rp52 triliun. Utang cukai juga menurun 6,0% sejalan dengan penurunan volume penjualan.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada Juni 2026, perseroan menetapkan dividen tunai sebesar Rp800 per saham atau total dividen sebesar Rp1,53 triliun. Dividen tersebut telah dibagikan kepada pemegang saham pada Juli 2026.

Meski demikian, Heru mengakui bahwa peningkatan pembayaran dividen masih cukup sulit dilakukan perseroan saat ini. Sebab, peningkatan pembayaran dividen membutuhkan kenaikan pendapatan yang dapat dilakukan melalui kenaikan harga jual produk atau peningkatan volume penjualan.

"Tetapi kalau pertanyaannya meningkatkan pembayaran dividen, itu hanya bisa terjadi kalau saya menaikkan harga terus, karena cukai turun belum pernah terjadi," katanya.

Penjualan rokok merek Gudang Garam sendiri mengalami penurunan dari 23,7 miliar batang pada Januari-Juni 2025 menjadi 20,5 miliar batang pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, sales revenue juga mengalami penurunan dari Rp44,36 triliun pada 2025 menjadi Rp41,17 triliun pada paruh pertama 2026.

Di sisi lain, Heru menjelaskan bahwa ketika perseroan menaikkan harga jual produk, tantangan yang dihadapi adalah persaingan dengan rokok ilegal tanpa cukai yang memiliki harga jual lebih rendah. Kondisi ini juga diperparah oleh daya beli masyarakat yang relatif belum meningkat ketika dihadapkan dengan harga rokok yang tinggi.

"Yang kita perhatikan adalah, kalau kita menjadi rokok termahal, itu mendorong suasana konsumen, mungkin menengah ke bawah mencoba merek lain. Jadi itu adalah pertimbangan yang kalau kita misalnya hanya menekankan pada profitabilitas," pungkasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement