Agus menjelaskan penutupan sebagian Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya memang beberapa kali terjadi, misalnya ketika salah satu landasan pacu mengalami perbaikan atau gangguan. Namun, penutupan seluruh operasional bandara baru dilakukan akibat sebaran abu vulkanik tersebut.
Keputusan penutupan dilakukan setelah hasil pengujian menunjukkan adanya abu vulkanik yang berpotensi membahayakan penerbangan. Agus mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan penumpang dan awak pesawat.
“Setelah BMKG memastikan bahwa dari hasil paper test, hasil black glass ternyata positif, kita tidak mau mengambil risiko dan langsung kita lakukan penutupan,” jelasnya.
Menurut Agus, penutupan bandara merupakan keputusan yang harus diambil meskipun konsekuensinya sangat besar terhadap operasional penerbangan dan penumpang.
“Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” ujarnya.