JAKARTA — Pengembangan energi panas bumi di Gunung Ungaran dinilai dapat berjalan berdampingan dengan sektor pariwisata di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Namun, penyelarasan kedua sektor tersebut membutuhkan dialog antarpemangku kepentingan, perencanaan yang matang, serta perhatian terhadap kelestarian lingkungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Pengamat pariwisata sekaligus mantan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Bambang Mintosih, mengatakan pengembangan energi dan pariwisata perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan daerah yang saling mendukung.
“Pengembangan panas bumi dan pariwisata perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah yang lebih luas. Kehadiran sumber energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan, sementara sektor pariwisata terus mengembangkan daya tarik dan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakteristik daerah. Kuncinya adalah membuka ruang dialog dan urun rembug bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Bambang, Minggu (18/10/2026).
Menurut Bambang yang juga yang juga Dewan Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Pelaku usaha dan masyarakat juga perlu mengembangkan beragam atraksi wisata, meningkatkan kreativitas lokal, serta memperkuat ekosistem usaha di sekitar destinasi.
Ia menilai, rencana pengembangan panas bumi perlu dikomunikasikan secara terbuka agar berbagai kepentingan dapat dipertimbangkan, termasuk keberlanjutan destinasi wisata dan potensi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Seluruh unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah. Dialog ini penting untuk mengidentifikasi peluang, mengantisipasi tantangan, dan memastikan setiap upaya pembangunan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.
Bambang juga melihat peluang pengembangan atraksi wisata berbasis aktivitas dan kreativitas lokal di Bandungan dan sekitarnya. Salah satunya adalah wisata olahraga atau sport tourism, yang dapat menarik pengunjung melalui berbagai kegiatan olahraga, termasuk ajang lari, sekaligus membuka peluang bagi usaha lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi.
Selain wisata olahraga, potensi kopi lokal yang dikembangkan anak muda dan pelaku usaha kreatif juga dapat diperkuat melalui wisata kuliner dan wellness tourism, yakni wisata yang berorientasi pada kebugaran dan kesejahteraan. Diversifikasi tersebut dinilai dapat memperluas pilihan wisatawan dan meningkatkan daya saing pariwisata Kabupaten Semarang.
“Karakter pariwisata akan selalu merepresentasikan keunikan daerahnya. Karena itu, penting untuk terus berinovasi dan menciptakan pengalaman baru tanpa mengabaikan kelestarian alam. Pengembangan energi dan pariwisata perlu dibicarakan secara konstruktif agar keduanya dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, peluang pengembangan wisata edukasi yang berkaitan dengan energi dan lingkungan juga dapat dikaji bersama. Namun, realisasinya perlu mempertimbangkan kelayakan teknis, aspek keselamatan, dan ketentuan yang berlaku.
Menurut Bambang, pembahasan mengenai potensi panas bumi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari diskusi mengenai arah pembangunan daerah. Karena itu, komunikasi terbuka dan keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk mengidentifikasi peluang sekaligus mengantisipasi tantangan.
“Pada akhirnya, yang perlu dibangun adalah kesamaan visi bahwa kemajuan daerah harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, perencanaan yang matang, dan sinergi seluruh pihak, pengembangan energi panas bumi dan pariwisata dapat dibahas secara proporsional untuk mendukung keberlanjutan lingkungan serta memperkuat perekonomian lokal,” pungkasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.