Pergeseran dinamika pasar global juga terlihat dari peta persebaran negara pembeli produk Indonesia sepanjang tahun berjalan. Meskipun permintaan dari kawasan Eropa mengalami kontraksi, serapan pasar tradisional di Asia dan Amerika tetap mampu mengompensasi penurunan tersebut.
"Ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai 54,17 miliar dolar AS atau naik 16,70 persen yang didorong nikel, lemak dan minyak hewani nabati, serta bahan bakar mineral. Secara kumulatif ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan ASEAN meningkat, namun pengiriman ke Uni Eropa dan kawasan tujuan lainnya tercatat menurun," tutur Ateng.
Kinerja bulanan pada penutupan kuartal ketiga tahun ini turut memperlihatkan tren akselerasi yang impresif dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan nilai pengiriman produk olahan tembaga dan minyak sawit menjadi pengungkit utama lonjakan ekspor pada September.
"Khusus September 2026 nilai ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87 persen, dengan nonmigas naik 12,39 persen menjadi 26,64 miliar dolar AS kendati migas terkoreksi tipis 0,99 persen ke 0,95 miliar dolar AS. Lonjakan ini didorong lemak dan minyak nabati yang naik 89,04 persen dengan andil 8,47 persen, tembaga naik 165,97 persen berandil 1,64 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik naik 24,37 persen dengan andil 1,61 persen," urai Ateng.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.