foto: ist
JAKARTA - Indonesia masih memiliki peluang mendapatkan pinjaman lunak dari berbagai negara melalui berbagai program untuk menutup defisit APBN.
Meskipun saat ini lembaga-lembaga donor terlihat kesulitan untuk mengucurkan dananya karena efek dari krisis keuangan global yang terjadi belakangan ini.
"Asalkan kita punya program-program yang bagus seperti pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, climate change, pendidikan, kesehatan, saya rasa akan banyak pihak yang tertarik terutama bilateral untuk membantu Indonesia dengan pinjaman yang term and condition-nya lebih ringan," ucap Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto, saat menandatangani nota kesepahaman pinjaman tersebut dengan direktur AFD untuk Indonesia Joel Daligault, di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (24/9/2008).
Selain itu, bantuan tersebut akan digunakan untuk membantu penyelesaian restrukturisasi dan rehabilitasi jaringan drainase utama di Banda Aceh.
Di samping itu, Badan Perancis untuk Pembangunan (AFD) pada 2008 ini juga memberikan pinjaman dalam APBN melalui program climate change. Yakni, program untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Adapun kesediaan AFD dalam memberikan pinjaman untuk program perubahan iklim juga didorong oleh keseriusan pemerintah Indonesia yang sudah memiliki policy matrix terkait program itu. Sehingga AFD memberikan komitmen pinjaman lunak sebesar USD200 juta.
Kendati demikian, masih diupayakan supaya ada tambahan sehingga secara keseluruhan bisa mencapai USD 300juta dolar AS hingga akhir tahun ini.
"Sejumlah pihak seperti Japan Bank International Corporation (JBIC), Jerman, Italia, dan Inggris masih tertarik untuk memberikan pinjaman meskipun bukan dalam bentuk program loan, tapi swap," pungkas Rahmat. (ade)