Foto: Dok ainaki.or.id
JAKARTA - Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (Ainaki) meminta kebijakan pemerintah lebih proaktif untuk memajukan industri animasi sebagai salah satu industri kreatif Indonesia.
"Kami minta ke pemerintah untuk kebijakan supaya ada ketentuan film animasi diberi ruang pada siaran di TV dengan memberikan slot bagi film animasi lokal seminggu selama sekira satu jam," ujar Chairman Ainaki, Denny A Djoenaidi, di Kantor Departemen Perdagangan, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (17/6/2009).
Dikatakannya, industri animasi dan konten Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Adapun biaya produksi pembuatan animasi lokal sebenarnya jauh lebih murah dibanding produk impor, yaitu 1:9.
Saat ini, pertumbuhan industri animasi mengalami kesulitan karena sejumlah permasalahan, utamanya terkait masalah pembiayaan. "Pembiayaan juga masalah, mereka jalan sendiri-sendiri, karena produksi film belum terbuka lebar," tambahnya.
Sedangkan kendala yang dihadapi di sektor Sumber Daya Manusia (SDM) masih belum terasah. Diakuinya, potensi SDM animasi Indonesia tidak kalah dengan negara lain, namun masih kalah perkembangannya dan persaingannya.
"Sebenarnya kita peluangnya bagus tapi SDM-nya belum diasah. Thailand tidak menilai Indonesia sebagai saingannya, tapi justru Vietnam karena mereka lebih maju," ungkapnya.
Saat ini Ainaki beranggotakan sekira 30-an perusahaan yang berasal dari Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Bali. (ade)