Getting time...

Kualitas Ekonomi Kuartal III Rendah

Rabu, 11 November 2009 07:28 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2009 sebesar 4,2 persen dinilai kurang berkualitas karena lebih didorong oleh sektor-sektor yang tidak bisa diperdagangkan (nontradable).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Slamet Sutomo mengatakan,secara keseluruhan, yakni kuartal I-III/2009, sektor-sektor nontradable seperti bangunan, jasa perdagangan, dan pengangkutan yang lebih mendominasi."( Sektor) yang lain kurang menyumbang pada pertumbuhan," kata dia di Jakarta kemarin. BPS kemarin mengumumkan laju perekonomian pada kuartal III/2009 mencapai 3,87 persen jika dibandingkan kuartal II/2009.

Adapun jika dibandingkan kuartal III/2008, pertumbuhan ekonomi kuartal III ini mencapai 4,21 persen. Sedangkan secara keseluruhan, dari kuartal I hingga III, perekonomian tumbuh 4,23 persen. Soal dampak pertumbuhan ekonomi kuartal III/2009 terhadap penyerapan tenaga kerja, Slamet mengaku tidak memiliki angka.

Namun, jika mengacu pada historis selama ini, setiap satu persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap sekitar 350 ribu tenaga kerja. Dengan demikian, jika pertumbuhan tahunan 4,21 persen berarti ada sekitar 1,5 juta tenaga kerja terserap. Tetapi, kata Slamet, penyerapannya lebih banyak pada sektor nontradable karena ini yang berkembang sepanjang 2009. "Juga di sektor informal.

Misalnya ada ibu terpaksa bekerja untuk membantu suami," imbuh dia. Pengamat ekonomi dari The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan mengatakan, jika terlalu bertumpu pada sektor nontradable pertumbuhan ekonomi akan tidak berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka kemiskinan.

Dia meminta pemerintah ke depan harus mengubah pola pertumbuhan ekonomi dengan memberikan perhatian lebih kepada sektor yang dapat diperdagangkan (tradable), terutama pertanian dan industri pengolahan. Jika dibiarkan terus seperti ini, katanya, pertumbuhan ekonomi meskipun tinggi akan percuma lantaran tidak menghasilkan lapangan kerja signifikan dan mengurangi kemiskinan. "Akhirnya, kita terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas," ujarnya.

Mulai Membaik

Di sisi lain, Slamet melanjutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik. Dilihat secara tahunan atau dibandingkan kuartal III/2008, dia menuturkan, terjadi pembelokan positif. Sejak pertengahan 2008, perekonomian Indonesia melambat terimbas krisis keuangan global. Pelambatan ini berlanjut sampai kuartal II/2009 namun pada kuartal III mulai membelok ke atas.

"Berarti ada tendensi perbaikan ekonomi,"ujarnya. Jika dirinci per sektor, Slamet lebih lanjut mengatakan, laju perekonomian 3,87 persen pada kuartal III 2009, antara lain didorong pertumbuhan sektor pertanian 7,35 persen, pertambangan 5,08 persen, konstruksi 5,5 persen, serta pengangkutan dan komunikasi 5,1 persen. Adapun dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 1,84 persen dari kuartal II/2009, pembentukan modal tetap bruto (investasi) meningkat 6,6 persen, ekspor 8,47 persen, sedangkan belanja pemerintah menurun.

Dari komposisi ini, sumber utama pertumbuhan ekonomi 3,87 persen berasal dari ekspor yang berkontribusi hingga 90 persen. Konsumsi rumah tangga juga masih tumbuh seiring adanya musim liburan, tahun ajaran baru sekolah, puasa, dan Lebaran pada kuartal III. Sementara pertumbuhan belanja pemerintah tercatat minus 0,5 persen lantaran belanja pegawai untuk pembayaran gaji ke-13 sudah dibayarkan pada kuartal II/2009.

Slamet menuturkan, Pulau Jawa dan Sumatera sepanjang tahun ini masih menguasai perekonomian Indonesia. "Sekitar 80 persen berasal dari pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Sumatera," imbuhnya. Meskipun masih seperti periode- periode sebelumnya, BPS mencatat, ada perbaikan pertumbuhan ekonomi di luar Jawa dan Sumatera."Ini kabar gembira walaupun secara porsi tidak banyak berperan pertumbuhan ekonomi di luar Jawa dan Sumatera meningkat," katanya.
(Meutia Rahmi /Koran SI/css)
TWITTER »
twit