Logo Indofarma. Foto: indofarma.php
JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) berencana membentuk anak usaha baru yang bergerak di bidang manufaktur obat nongenerik dengan nilai investasi sebesar Rp200 miliar. Perseroan akan menggandeng mitra perusahaan asing dalam aksi korporasi tersebut.
"Kami tengah menjajaki kerja sama dengan pihak lain untuk membuat anak usaha di bidang manufacturing obat nongenerik," ujar Direktur Utama Indofarma P Soedibyo di Jakarta kemarin.
Dia mengatakan, mitra yang akan digandeng merupakan perusahaan asing.Namun, dia enggan menyabutkan nama perusahaan tersebut. Soedibyo hanya menjelaskan mitra tersebut memiliki teknologi untuk memproduksi obat nongenerik. "Dengan begitu terjalin sinergi yang baik dengan perseroan," ungkapnya.
Soedibyo menuturkan, dengan adanya anak usaha yang memproduksi obat nongenerik, perseroan bisa berkonsentrasi memproduksi dan memasarkan obat generik sesuai public service obligation (PSO) dari pemerintah. Kebutuhan dana untuk investasi anak usaha tersebut diperkirakan mencapai Rp200 miliar. Namun, perseroan belum menghitung porsi kepemilikan serta jumlah modal disetor yang akan disiapkan.
"Kami akan bawa rencana ini di RUPS (rapat umum pemegang saham) berikutnya. Jadi,mungkin tahun depan anak usaha ini sudah bisa terbentuk," ucap Soedibyo.
Lebih lanjut dia mengatakan, Indofarma menargetkan peningkatan laba bersih menjadi Rp30 miliar di tahun ini setelah mulai mencetak laba di akhir 2009 sebesar Rp2,1 miliar.
Perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik obat generiknya untuk mengejar target tersebut. Untuk meningkatkan laba bersih tersebut, perseroan berencana meningkatkan penjualan hingga Rp1,4 triliun pada 2010 ini.Hingga akhir 2009 penjualan Indofarma tercatat sebesar Rp1,1 triliun.
Menurut Soedibyo, peningkatan pendapatan itu sejalan dengan peningkatan produksi pabrik obat generik perseroan tahun ini. Dari jumlah penjualan 2009, sebanyak Rp400 miliar disumbang oleh obat generik dan sisanya Rp700 miliar dari konsolidasi anak usaha.
"Tahun ini dari obat generik minimal menyumbang Rp650 miliar ke pendapatan. Untuk itu,utilisasi pabriknya harus sekitar 85 persen,” ujarnya.
Dia menambahkan,dengan utilisasi pabrik obat generik sebesar 85 persen, break even point atau balik modal perseroan di kisaran Rp550 miliar sehingga dengan penjualan sebanyak Rp650 miliar perseroan sudah mengantongi laba. (Juni Triyanto /Koran SI/wdi)