Foto: Koran SI
JAKARTA - Proyek patungan pabrik pupuk antara Indonesia dengan Iran masih menggantung. Pasalnya, hingga saat ini, belum ada sikap yang jelas dari Indonesia.
Seperti diketahui, pada 11 November 2007 lalu, PT Pupuk Sriwajaya (Pusri, Indonesia) dengan Iran melalui NPCI Ltd dan Petrochemical Industries Investment Company (PIIC) membentuk perusahaan patungan yakni Hangeem Petrochemical Company (HPC).
Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi mengatakan, kejelasan proyek patungan tersebut, masih menunggu sikap dari Pusri.
“Pihak Iran sudah berkomitmen merealisasikan proyek itu, hanya masalah waktu saja. Ini masih menunggu sikap dari Pusri, masih mau atau akan mundur,” kata Benny di Jakarta, Jumat (4/6/2010).
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemenperin Agus Tjahjana. “Iran masih komitmen untuk proyek itu. Tinggal Indonesia yang melakukan langkah-langkah dalam rangka merealisasikan proyek tersebut. Apakah Pusri atau Kementerian BUMN mau mengambil kesempatan itu. Yang memutuskan itu kan BUMN,” kata Agus.
Menurutnya, hingga saat ini, Indonesia masih membutuhkan tambahan pasokan pupuk. “Ini merupakan kesempatan bagi kita, dan itu menjadi PR bagi Kementerian BUMN untuk memanfaatkannya. Kan lumayan, USD1 per MMBTU. Tapi, memutuskannya juga harus hati-hati karena ini menyangkut uang yang banyak, hampir USD500 juta,” ucapnya.
Agus menjelaskan, realisasi proyek tersebut masih terhambat masalah tenggat waktu. Pasalnya, lanjutnya, masih menyangkut kesepakatan terkait pembiayaan oleh bank mitra di Iran.
“Tapi, menunggu keputusan dari BUMN. Sementara itu, jika partner dalam kesepakatan itu keluar, Iran berhak menentukan apaakah mencari mitra dari Indonesia atau tidak,” imbuhnya.
Dihubungi secara terpisah, Sekretaris Menteri BUMN Said Didu mengakui, pihaknya sudah menentukan sikap atas realisas proyek tersebut. Namun sayangnya, Said menolak untuk memberitahu sikap tersebut secara rinci.
“Sudah ada sikap, tapi informasi ini belum bisa dipublikasikan. Masih akan dibahas di tingkat pemerintah. Menunggu rapat Menteri dulu, setelah dibahas, baru bisa saya informasikan. Sebab, ini terkait hubungan antar pemerintah," kata Said Didu.
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat sebelumnya pernah mengatakan, pembangunan pabrik di Iran ini telah dipastikan akan mendapat suplai gas selama kurang lebih 20 tahun. “Itu rencananya, kita akan membicarakan lebih lanjut dengan BUMN,” kata Hidayat.
Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Dadang Kodri menjelaskan, proyek senilai USD450 juta ini, diantaranya akan melibatkan dana perbankan di Iran senilai USD150 juta dan lembaga keuangan lainnya. “Semuanya menunggu, terngantung dengan kondisi yang lain. Kita tunggu lah,” kata Dadang.
Menurutnya, kapasitas pabrik akan mencapai 3.500 ton per hari, dimana pembangunan pabriknyaa akan melibatkan tenaga ahli dari Indonesia dan Iran. “Dari sisi teknologi sudah tidak ada masalah,” ucapnya.
Dadang menambahkan, pabrik pupuk urea dan ammonia akan dibangun di atas lahan empat hektare (Ha) di kawasan Parseez, Bandar Assaluyeh, Iran Selatan. (Sandra Karina/Koran SI/ade)