Ilustrasi
JAKARTA - Sejumlah ekonom memperkirakan, Bank Indonesia (BI) akan menaikkan BI Rate hingga ke level 6,75-7 persen dalam waktu dekat sebagai imbas dari tingginya inflasi.
"BI Rate sangat mungkin naik karena ekspektasi inflasi 2010 diperkirakan akan menembus enam persen," kata pengamat pasar modal Toni Prasetyantono di Jakarta.
Inflasi Juli yang mencapai 1,57 persen, menurut dia, menunjukkan bahwa inflasi berakselerasi lebih cepat dari perkiraan semula.Di sisi lain, lanjut Toni,rupiah bisa dikatakan masih kuat dan stabil. Dalam situasi ini, kalau BI mau menaikkan level BI Rate, disarankan besarannya hanya 25 basis poin menjadi 6,75 persen.
"Saya pikir BI Rate 6,75 persen sudah cukup karena rupiah masih kuat dan stabil," jelasnya.
Pandangan senada muncul dari Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara.Dia menilai,BI Rate akan dinaikkan kecuali BI mampu menurunkan inflasi di bulan-bulan berikutnya. Dia menyarankan, BI hingga akhir tahun menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50-75 basis poin.
Berbeda dengan Toni dan Mirza, Ekonom HSBC Wellian Wiranto mengatakan bahwa naiknya inflasi di bulan Juli tidak terlalu mengkhawatirkan. Sebab,menurut dia, kenaikan itu didorong oleh faktor temporer.
"Seperti harga pangan yang naik karena cuaca buruk, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), anak akan sekolah, juga naiknya ongkos perpanjangan STNK," tuturnya.
Menurut Wellian, BI akan cenderung menahan suku bunga di level 6,5 persen untuk beberapa bulan ke depan. "Itu karena inflasi dalam bulan-bulan ini bersifat temporer juga," cetusnya.
Ekonom Citibank Johanna Chua mengungkapkan pendapat senada. Dia memperkirakan, BI menahan kenaikan suku bunga acuannya. Hal itu sebagai antisipasi inflasi yang melonjak di bulanbulan berikutnya.
"BI kemungkinan akan menahan BI Rate di kisaran 6,5 persen. Itu sebagai antisipasi risiko kenaikan inflasi di bulan Ramadan hingga Lebaran.Saya pikir,BI akan lebih hati-hati dalam menetapkan kebijakan moneternya," kata Johanna.
Secara terpisah, Gubernur BI Darmin Nasution menegaskan bahwa suku bunga acuan BI tidak akan mengikuti pergerakan kenaikan inflasi. Sebaliknya, BI Rate akan digiring untuk menentukan level inflasi ke depan.
"Kita tidak melihat inflasi dulu baru menentukan BI Rate.Kita menentukan BI Rate untuk menggiring inflasi," ungkap Darmin.
Darmin menyatakan,kenaikan harga beberapa macam kebutuhan pokok yang menjadi pendongkrak kenaikan inflasi Juli lalu merupakan hal yang wajar. Harga akan kembali turun saat panen dimulai.
Yang masih dikhawatirkan, kata Darmin, adalah kenaikan TDL sebab berdampak ke inflasi selama satu tahun. Kendati demikian, pihaknya masih meyakini, inflasi hingga akhir tahun akan sesuai dengan perkiraan awal, yaitu 5 plus minus 1 persen. Arah ke depan, sambung dia, BI akan menggiring inflasi di kisaran 4 plus minus 1 persen.
Hal itu sesuai dengan inflasi negara Filipina, yang secara geografis memiliki karakter yang sama, yaitu negara kepulauan. Filipina saja inflasinya bisa 3-4 persen. Indonesia masih 5-6 persen. "Kita percaya kita bisa mendorong inflasi seperti di Filipina," tegasnya. (Didik Purwanto/Koran SI/wdi)