Ilustrasi: Pesawat
JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai regulator penerbangan tidak khawatir dengan aksi maskapai penerbangan yang mulai menghapus tiket promosi guna menyiasati melambungnya harga bahan bakar pesawat (avtur). Selain itu Kemenhub juga belum akan merivisi aturan tarif batas atas.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Harry Bakti S Gumay mengatakan, keputusan maskapai penerbangan untuk menghapuskan tiket promosi adalah hak perusahaan tersebut.Namun dirinya memastikan, di era liberalisasi seperti sekarang ini, risiko kehilangan pangsa pasar akibat penghapusan tiket promosi tersebut juga cukup besar.
“Tidak ada masalah jika tarif promosi dihapus oleh operator asalkan tarif batas atas tidak dilanggar.Ini pasar bebas selalu ada yang lebih murah menawarkan produknya.Tinggal masyarakat menentukan pilihannya,” kata Herry Bakti seusai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta.
Dia menegaskan, hingga saat ini harga avtur belum melampaui Rp10.000 per liter, sehingga tidak ada alasan bagi regulator untuk merevisi aturan tarif batas atas. Seperti diketahui, harga minyak dunia telah menyebabkan harga avtur di Tanah Air juga ikut merangkak naik.
“Jika belum melebihi batasan yang disepakati kenapa tarif diubah. Hingga sekarang juga belum ada surat resmi dari asosiasi penerbangan nasional (INACA) untuk revisi tarif batas atas,”tegasnya.
Berkaitan dengan aksi maskapai yang menerapkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk penerbangan internasional,menurut Herry, hal itu tidak melanggar aturan. “Mereka cukup menginformasikan saja ke regulator soal ada kenaikan fuel surcharge,” kata Herry.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan, akan melayangkan surat kepada Kemenhub terkait fluktuatifnya harga avtur di Indonesia. Pihaknya akan memberikan dua opsi yakni revisi tarif batas atas atau implementasi fuel surcharge.
“Di beberapa tempat seperti Indonesia Timur, harga avtur telah melebihi Rp10.000 per liter. Karenanya kami menilai sudah saatnya tarif diperbarui. Sementara, rata-rata keseluruhan harga avtur di Indonesia telah mencapai Rp9.800 per liter,” katanya.
Sementara itu,Manajer Humas Batavia Air,Eddy Haryanto mengungkapkan, karena terus meningkatnya harga avtur membuat pihaknya mengambil kebijakan tidak lagi mengeluarkan tiket promosi atau termurahnya.
“Biasanya tiket murah itu untuk kerja sama dengan instansi tertentu, saat ini dihentikan dulu mengeluarkan dengan harga paling murah, karena harga BBM sudah sangat tinggi,”ungkap Eddy.
Dijelaskannya, jika untuk penerbangan domestik, perusahaannya terpaksa mengurangi tiket promosi, maka untuk penerbangan internasional pihaknya memberlakukan kenaikan fuel surcharge. Salah satu penerbangan ke luar negeri Batavia Air adalah Jakarta- Jeddah (Arab Saudi) dengan fuel surcharge sebesar USD70. (heru febrianto) (Koran SI/Koran SI/wdi)