KARANGANYAR - Penghentian impor sapi asal Australi belum memberikan dampak positif bagi peternak di Karanganyar, Jawa Tengah.
Di kabupaten ini, terdapat sebuah kampung, yang dinamakan Kampung Sapi. Di kampung ini terdapat 58 orang peternak, dengan jumlah sapi mencapai 150 ekor. Seharusnya dengan adanya penghentian suplai sapi dari Australia tersebut, para peternak mendapatkan keuntungan.
Namun yang terjadi justru kebalikannya, karena harga jual sapi mengalami penurunan. Ada tiga jenis sapi, yang digemukkan ataupun dibiakkan disini. Antara lain jenis sapi metal, limosin, serta sapi lokal. Menurut koordinator kampung sapi, Mulyadi, harga harga sapi lokal di pasaran justru anjlok dibanding enam bulan lalu.
Penurunan harga ini berkisar 30 hingga 40 persen. Akibatnya meski telah masuk masa jual, peternak tak melepas sapi tersebut ke pasaran. Seekor sapi indukan pada enam bulan lalu dipasaran laku Rp9 juta per ekor, kini hanya dihargai Rp6,6 juta -Rp7 juta per ekor.
Sementara sapi pejantan yang dulunya Rp10 juta per ekor kini hanya Rp7 juta per ekor. Sedangkan seekor sapi yang dibeli enam bulan lalu seharga Rp8 juta, kini dipasaran hanya laku sekira Rp5 jutaan saja. "Belum lagi kami harus menyediakan makanan rumput, konsentrat dan yang lain. Kembali modal saja sudah bagus. Dengan kondisi semacam ini kami hanya bertahan agar sapi tetap hidup," terangnya.
Mereka pun kesulitan mencari jerami, untuk pakan sapi-sapi tersebut. Pasalnya serangan wereng, telah menghancurkan sebagian besar persawahan di Karanganyar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sukardi, yang lebih memilih untuk memelihara indukan, untuk menapatkan anak sapi yang kemudian nantinya akan digemukkan. Dengan cara ini, Sukardi bisa lebih berhemat. Karena usaha penggemukan sapi, kini dirasa tak lagi menguntungkan. Ibaratnya, kini peternak setiap hari bertengkar dengan isteri gara-gara sapi. "Sebab biaya untuk pemeliharaan sapi lebih besar dibanding untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari," pungkasnya sambil memberi pakan pada sapi-sapinya.
Walau telah dihentikan, namun stok daging dari Australia masih cukup untuk kebutuhan, selama enam bulan kedepan. Para peternak khawatir, jika stok ini habis maka pemerintah akan mencari pasokan lagi, dari luar negeri. Mereka pun berharap pemerintah dapat memberikan solusi, agar peternak tidak terus merugi.
(Andina Meryani)