JAKARTA - Lebaran membawa berkah bagi daerah. Diperkirakan sekitar 60 persen dari total dana yang disiapkan Bank Indonesia (BI) sebesar Rp77 triliun mengalir ke daerah. Fakta ini tentu mampu mendorong aktivitas ekonomi daerah.
Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam membenarkan peningkatan jumlah pemudik pada saat Lebaran tahun ini berbanding lurus dengan peningkatan jumlah aliran uang ke daerah. ”Momentum Lebaran selalu jadi faktor yang bisa mengangkat pertumbuhan dan aktivitas ekonomi daerah,” ungkap Latif, Minggu (4/9/2011) malam.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengakui, momentum Lebaran memberi dorongan terhadap aktivitas dan pembangunan ekonomi. Salah satu indikatornya adalah jumlah uang yang beredar selama Lebaran cukup besar.”Umumnya, para pegawai mendapatkan THR atau bonus yang bisa digunakan untuk mengonsumsi,” ungkapTony.
Senada, pengamat perbankan Khrisna Wijaya menjelaskan, selama Lebaran masyarakat banyak menggunakan dananya untuk kebutuhan seperti membeli pakaian, transportasi, makanan, perbaikan rumah, kendaraan, THR/sedekah, dan sejumlah kebutuhan lain.Menurut dia, sebagian besar uang masih beredar di Jawa.
”Tentunya populasi terbesar di Jawa karena secara geografis memang jumlah penduduknya terpadat. Lebaran dengan segala tradisinya memang kekhasan Indonesia, ”katanya.
Pengamat perbankan Paul Sutaryono berharap peredaran uang dari Jakarta ke daerah bukan hanya dinikmati daerah di Pulau Jawa saja. Untuk itu, kata dia, diperlukan pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah untuk menaikkan ekonomi daerah luar Jawa. ”Saya kira 60 persen Jawa dan sisanya luar Jawa,”ujarnya.
Untuk diketahui,Data Bank Indonesia menyebutkan, transaksi uang receh selama Ramadan dan beberapa hari menjelang Lebaran 2011 sudah mencapai Rp77 triliun. Data yang diterima hingga 26 Agustus menyebutkan, transaksi uang sudah melampaui target realisasi yang diperkirakan BI sebesar Rp61,3 triliun.
Realisasi transaksi uang pada Lebaran tahun ini juga naik sekitar 41 persen dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp 54,78 triliun. Adapun jumlah uang yang beredar di masyarakat beberapa hari menjelang Lebaran sudah mencapai jumlah Rp367 triliun. Selain itu, BI mencatat penarikan uang mengalami peningkatan cukup signifikan menjelang dimulainya cuti bersama Idul Fitri.
Pada 24 Agustus realisasi penarikan uang sudah mencapai 88,5 persen dari proyeksi atau sekitar Rp54,3 triliun. Deputi Direktur Pengedaran Uang BI Adnan Djuanda menuturkan, jumlah uang beredar hingga 25 Agustus 2011 mencapai Rp383,7 triliun, meningkat Rp16,7 triliun sejak tanggal 24 Agustus yang tercatat sebanyak Rp367 triliun.
Jumlah tersebut, sambung Adnan, tumbuh 17,48 persen dibandingkan dengan hari di luar Ramadan yang biasanya mencapai Rp326,6 triliun. Latif menilai fenomena Lebaran perlu dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Dengan kata lain, distribusi uang yang selama ini terfokus di Jakarta dan hanya satu tahun sekali mengalir deras ke daerah perlu lebih dimaksimalkan tidak hanya pada saat Lebaran.
”Dengan demikian, disparitas pembangunan ekonomi daerah bisa diminimalkan. Ketimpangan pembangunan ekonomi antardaerah dan dengan pusat juga bisa dikurangi,” jelasnya.
Dia kemudian menuturkan, di luar masa Lebaran,justru kecenderungannya uang dari daerah banyak yang mengalir ke Jakarta.
Sebab, banyak tenaga kerja atau sumber daya manusia yang produktif dari daerah dan sesungguhnya bisa mengembangkan ekonomi daerah justru bekerja di Jakarta dan membuat perputaran uang di Ibu Kota cenderung lebih besar.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.