JAKARTA - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai jika kondisi industri manufaktur Indonesia saat ini semakin terpuruk.
"Meningkatnya arus impor barang jadi dan barang modal membuat banyak pengusaha nasional beralih menjadi pedagang. Pertumbuhan industri manufaktur pun akan sulit menembus angka lima persen. Padahal sebelum krisis 1997, industri manufaktur dalam negeri bisa tumbuh hingga 20 persen per tahun," kata Ketua Hipmi Erwin Aksa, melalui siaran persnya kepada okezone, Kamis (6/10/2011).
Dikatakannya, banyak perusahaan besar dan menengah manufaktur terus menurun karena kalah bersaing. Banyak produsen lokal memilih menjadi pedagang karena lebih menguntungkan. "Kondisi ini akan terus terjadi jika pemerintah tidak segera mengubah kebijakannya," katanya.
Melonjaknya arus barang impor, terutama dari China membuat pengusaha manufaktur dalam negeri berpikir ulang untuk meningkatkan investasinya. Apalagi dengan adanya Asean China Free Trade Agreement (ACFTA), laju barang-barang dari China makin sulit dikendalikan.
Terbukti defisit perdagangan Indonesia-China semakin melebar. Sampai Agustus 2011, total ekspor Indonesia ke China mencapai USD12,8 miliar. Sementara nilai impornya sebesar USD16,3 miliar.
"Tidak sedikit dari anggota Hipmi yang akhirnya memilih menjadi distributor barang-barang impor. Lihat saja pengusaha handphone, hampir semuanya pedagang, tidak ada yang menjadi produsen di dalam negeri," katanya.
Selain itu, Erwin juga meminta kepada pemerintah agar memberikan dukungannya melalui pemberian bunga yang rendah kepada para pelau sektor Usaha kecil menengah (UKM).
"Bunga 20 persen itu mahal, itu tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi oleh para pengusaha. idelanya bunga kredit UKM 10-12 persen. lagipula rata-rata simpanan di bank hanya enam persen," tandasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.