Ilustrasi: Kakao. Foto: Wordpress
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman menjelaskan, pemberlakuan bea keluar kakao dalam 1,5 tahun terakhir, telah membangkitkan industri pengolahan kakao nasional secara bertahap. Setelah lima tahun berhenti produksi, kata dia, sebagian dari industri-industri itu mulai melakukan operasi.
“Butuh persiapan mulai dari melakukan perekrutan pegawai baru, perbaikan mesin, membangun kembali jaringan pasokan, hingga mencari kembali pasar di luar negeri,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.
Investasi yang dilakukan oleh perusahaan asing di industri pengolahan kakao nasional, tidak akan menekan industri lokal sejenis.
"Produksi kakao dalam negeri masih sangat cukup. Bahkan, sebagian besar biji kakao masih diekspor karena melebihi daya serap industri dalam negeri. Perusahaan besar berani masuk karena tahu Indonesia memiliki sumber bahan baku yang cukup. Kalau tidak, mana mau mereka bangun pabrik di Indonesia,” ujarnya.
Piter menambahkan, dengan adanya Gerakan Nasional (Gernas) kakao yang dicanangkan oleh pemerintah, maka produksi kakao nasional diperkirakan akan mencapai 1,2 juta ton per tahun pada 2014, atau naik dari 2010 yang sekitar 575.000 ton.
“Tahun ini produksi sempat turun sekitar 10 persen karena faktor cuaca. Tapi, akan naik kembali menjadi sekitar 600.000 ton,” tandas Piter.
Dirjen Industri Agro Kemenperin Benny Wachyudi mengatakan, berkembangnya industri olahan biji kakao yang terjadi saat ini jelas lebih baik bagi Indonesia dibandingkan hanya menjadi eksportir sumber daya alam. "Dengan adanya pengolahan, maka akan meningkatkan nilai tambah terutama penyerapan tenaga kerja dan pajak,” kata Benny. (Sandra Karina/Koran SI/wdi)