Ilustrasi: Kalkulator
JAKARTA - Industri manufaktur nasional masih didominasi oleh produk-produk dengan kandungan teknologi rendah.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim mengatakan, nilai output produk manufaktur dengan kandungan teknologi rendah pada 2007 mencapai sekira 53 persen dari total output industri manufaktur yang sebesar Rp1.547 triliun.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan nilai output produk manufaktur dengan kandungan teknologi menengah rendah sebesar 21 persen, teknologi menengah tinggi 22 persen, dan teknologi tinggi lima persen.
LIPI mencatat, ekspor manufaktur nasional untuk produk yang berteknologi rendah adalah USD52,7 miliar di 2010, atau naik dari tahun sebelumnya yang sebesar USD40,2 miliar. Sedangkan untuk ekspor produk teknologi menengah rendah USD14,6 miliar di 2010 dan 2009 sebesar USD10,9 miliar.
Sementara untuk teknologi menengah tinggi USD3,96 miliar tahun 2010 dan USD2,76 miliar di 2009, lalu untuk produk teknologi tinggi adalah USD9,02 miliar di 2010 dan USD7,69 di 2009.
Lukman menjelaskan, investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta dalam riset dan pengembangan teknologi masih rendah. Menurutnya, dibutuhkan dana untuk research and development hingga satu persen dari GDP per tahun sampai 2014 mendatang. Hal itu dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan dukungan pemerintah, BUMN dan swasta.
"Tidak terjadi interaksi antara aktor yang terlibat dalam sistem inovasi iptek dan sektor produksi nasional,” kata Lukman di Jakarta, Senin (10/10/2011).
Hal tersebut, kata dia, menyebabkan sektor industri nasional menjadi kurang berkembang dan banyak tergantung pada aktor prinsipal asing untuk impor kebutuhan domestik. (Sandra Karina/Koran SI/wdi)