Pasar Consumer Goods Capai Rp101 T

Selasa, 1 November 2011 17:50 wib
Ilustrasi
Ilustrasi
JAKARTA - Pasar fast moving consumer goods (FMCG) di seluruh Indonesia pada 2010 mencapai Rp101 triliun. Sedangkan di lima kota besar yakni Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Semarang adalah sebesar Rp39 triliun.

Associate Director Homepanel Nielsen Hellen Katherina mengatakan, pihaknya belum tahu seberapa besar peningkatan pasar pada tahun ini. Namun, menurutnya, hal itu tergantung dari jenis FMGC yang banyak digunakan oleh konsumen.

"Nielsen melakukan analisa data business opportunity. Pasar FMCG di Indonesia itu besar sekali. 2010 untuk pasar di seluruh Indonesia mencapai Rp101 triliun,” kata Hellen, di sela-sela Seminar bertema “Building Stronger Brands through Integration and Innovation” di Jakarta, Selasa (1/11/2011).

Peningkatan pasar dari masing-masing produk FMCG untuk tahun ini, lanjutnya, masih di bawah 10 persen. Untuk saat ini, kata dia, produk makanan dan minuman masih mendominasi pasar FMCG. “Peningkatan berbeda-beda. Tergantung produknya,” ucapnya.

Selain itu, pasar FMCG, kata dia, juga dipengaruhi oleh tingkat inflasi. “Pasar FMCG mengikuti tingkat inflasi. Inflasi berkaitan dengan harga produk dan seberapa besar volume belanja konsumen,” paparnya.

Sementara, Hellen menuturkan, para produsen produk FMCG sebaiknya bisa menggunakan strategi promosi yang baik. Pasalnya, kata dia, promosi bisa mempengaruhi keputusan konsumen.

Nielsen mencatat, sebanyak 74 persen konsumen memutuskan untuk beralih ke produk lain karena adanya promosi yang menarik. Sedangkan sisanya yang sebesar 32 persen lebih memilih setia untuk memakai produk lamanya.

Media promosi paling berpengaruh terhadap keputusan dan perilaku konsumen adalah brosur yakni sebesar 74 persen. Kemudian, disusul oleh televisi 46 persen, koran 28 persen, radio delapan persen, majalah enam persen, dan tabloid enam persen.

"Manufacturer harus memikirkan ulang bagaimana melakukan strategi promosi yang baik, karena setelah tidak ada promosi, penjualan akan turun lagi karena konsumen sudah menyetok banyak barang,” jelasnya.

Menurutnya, promosi lebih bisa menarik perhatian konsumen dari kelas bawah, mempengaruhi konsumen untuk merubah pilihan tempat berbelanja, konsumen beralih ke produk lain, konsumen menyetok banyak produk selama masa promosi. Namun, kata dia, promosi tidak berpengaruh terhadap produk untuk bayi. Konsumen lebih setia dalam membeli produk untuk bayi.

Sepuluh jenis produk yang paling sering dipromosikan adalah deterjen, sabun toilet, minyak goreng, pembersih, pelembab pakaian, popok bayi, insektisida, susu bubuk, sabun cuci piring cair, dan pasta gigi. “Ketika konsumen melihat promosi di toko, maka tingkat belanja mereka untuk membeli produk itu bisa naik 200 persen,” jelasnya. (Sandra Karina/Koran SI/wdi)
TWITTER »
twit