JAKARTA- Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) membutuhkan dana investasi sebesar Rp1,5 miliar untuk menambah tangki timbun dan dispenser dalam pembuatan SPBG.
"Investasi kalau Liquified Gas for Vehicle (LGV) itu sebesar kurang lebih Rp1,5 miliar per SPBG. Tambahan satu tangki dan satu dispenser. Kecil itu mah, dengan lihat yang dihemat berapa. Hitung saja satu juta kiloliter (KL) saja sudah hemat Rp4 triliun," ujar Ketua Hiswana Migas Eri Purnomohadi kala dihubungi okezone di Jakarta, Minggu (01/01/2012).
Menurutnya, pembangunan infrastruktur konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) membutuhkan waktu setidaknya enam bulan. "Untuk masalah tanah mah gampang. tinggal pemerintah bilang pasti bisa," ungkapnya.
Dia mencontohkan, di Thailand dalam waktu empat tahun dapat membangun 400 mother station atau depo BBG. "Saat ini sudah ada 2,5 juta kendaraan di Thailand yang menggunakan gas. Memang gas ini harus ada yang mendobrak dan pemerintah harus lebih serius," tegasnya.
Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah memulai dari Jakarta dan Bali. "Saat ini terdapat 700 SPBU di Jakarta dan sekitarnya yang telah siap diinvestasikan menjadi BBG," tuturnya.
Selain itu, dia menambahkan, harga jual gas juga harus diperbaiki dengan marginnya sekitar Rp300-400 per lsp. "Dengan harga itu pengusaha SPBU tidak akan menolak," pungkasnya. (mrt)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.