Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA - Utang Indonesia mencapai Rp1.800 triliun masih kecil terglong kecil. Hal ini, dibuktikan dengan debt to GDP ratio Indonesia yang masih tergolong rendah.
Dirjen Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Rahmat Waluyanto menjelaskan, debt to GDP ratio Indonesia semakin rendah karena pendapatan negara yang semakin besar.
"Tidak masalah (utang), kan dilihat sustanibility fiskal itu debt to GDP ratio, utang akan semakin rendah bila pendapatan negara besar, pendapatan nasional. Kan nantinya penggunaan utang bisa semakin efisien untuk membiayai kegiatan. Bisa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," jelas Rahmat ketika ditemui di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Jumat (6/1/2012).
Selain itu, hingga 2014 nanti, pemerintah menargetkan adanya penurunan debt to GDP ratio, hingga 22 persen dimana saat ini debt to GDP ratio masih berada di angka 24 persen. "Yang penting nilai tukar jangan melemah, harus dijaga. Karena kalau melemah maka utang membesar. 45 persen utang kita kan valas, dolar Amerika Serikat (AS), yen, euro," jelas Rahmat.
"Kalau rupiah Stabil. Debt to GDP bisa ditekan." Tambahnya
Meski demikian, Rahmat menilai utang sebesar Rp1.800 triliun telah mengecil. Menurutnya, dalam utang yang penting adalah bagaimana mengelola utang itu dengan hati-hati dan prudent.
"Dalam utang itu kita tidak tau kan, pasar dinamis tidak bisa diprediksi. Eropa semua negara triple AAA ternyata terbelit utang besar, yang penting kita mengelola utang dengan hati-hati dan prudent sesuai dengan ketentuan perundangan," tutupnya. (mrt) (rhs)