Ilustrasi. Corbis.
CILEGON - Masalah sengketa lahan yang selama ini menghambat realisasi pembangunan pabrik baja PT Krakatau Posco di Cilegon, Banten yang senilai USD6 miliar akhirnya bisa diselesaikan.
Sejumlah pihak terkait seperti pemerintah Cilegon dan PT Krakatau Steel (KS) Tbk saling sepakat untuk menandatangani perjanjian pelaksanaan atas nota kesepahaman tentang percepatan pembangunan pabrik PT Krakatau Posco dan pembangunan pelabuhan pemerintah kota Cilegon.
Penandatanganan tersebut dilaksanakan pada sidang paripurna DPRD kota Cilegon yang disaksikan oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Perdagangan sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, Meneg BUMN Dahlan Iskan dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.
Dalam perjanjian tersebut, pemerintah kota Cilegon secara resmi menyerahkan lahan seluas 45 hektare (ha) di Kubangsari untuk proyek pembangunan pabrik baja PT Krakatau Posco. Sebagai gantinya, KS memberikan lahan seluas 45 ha untuk kebutuhan pembangunan pelabuhan Cilegon termasuk akses jalan dari dan ke kawasan pabrik sebagai jalan umum.
KS juga telah menyerahkan dana senilai Rp98,51 miliar untuk menggantikan investasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah kota Cilegon untuk pelabuhan di Kubangsari."Kesepakatan ini merupakan buah dari kerja yang luar biasa dan dukungan pemerintah pusat dan pejabat pemerintah lainnya," kata Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang di Cilegon, Banten, Rabu (18/1/2012).
Dia menjelaskan, dengan diselesaikannya masalah sengketa lahan, maka pembangunan pabrik PT Krakatau Posco tahap pertama yang senilai USD3 miliar bisa selesai lebih cepat dua bulan dari target semula yakni Oktober 2013. "Pembangunan akan selesai lebih cepat dua bulan, pada akhir 2013 sudah bisa masuk tahap percobaan produksi," jelasnya.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, investasi pabrik baja PT Krakatau Posco akan mendorong perekonomian Cilegon sekaligus memperkuat struktur industri nasional. "Proyek ini sangat penting, Cilegon akan sangat berjasa karena proyek ini bisa menopang industri-industri berat yang selama ini bergantung pada impor," kata Hidayat.
Dia menjelaskan, pabrik tersebut mampu menghasilkan 3 juta ton baja slab per tahun yang kemudian bisa diproes menjadi 1,5 juta ton plat baja per tahun.
Plat baja yang diproduksi nantinya bisa digunakan oleh sejumlah sektor industri seperti galangan kapal, alat berat serta minyak dan gas bumi.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kebutuhan baja di pasar domestik tumbuh 12-15 persen per tahun. Konsumsi baja per kapita Indonesia naik dua kali lipat dari 28 kilogram (kg) pada 2002 menjadi 48 kg pada 2010 lalu 57 kg pada 2015. (mrt) (Sandra Karina/Koran SI/rhs)