JAKARTA - PT Pertamina mengakui belum ada hambatan pasokan dari Saudi Aramco yang melewati selat Hormuz, dengan kapasitas sekira 1,8 juta barel per bulan.
"Sampai saat ini belum ada gangguan pasokan dari Aramco. Biasanya, ada informasi dulu kalau memang ada gangguan pasokan dari mereka. Tapi sampai saat ini masih lancar-lancar saja," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina kala dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (24/1/2012).
Dia mengungkapkan, pasokan impor minyak mentah untuk kilang Pertamina dari Saudi Aramco yang lewat Selat Hormuz itu sekira 60 ribu barel per hari (bph) atau sekira 1,8 juta barel per bulan. "Sisanya, sekira 300 ribu bph berasal dari Asia, seperti Singapura, Malaysia, China, dan lain-lain," tegasnya.
Sebelumnya, harga minyak menguat mendekati USD100 per barel saat Iran kembali mengancam untuk memblokir pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia. Ancaman itu menyusul keputusan Uni Eropa untuk menghentikan (embargo) impor minyak mentah dari Iran.
Uni Eropa telah memberikan persetujuan awal untuk memberlakukan larangan impor minyak mentah terhadap Iran. Tindakan itu bertujuan untuk memotong sumber utama pendapatan Teheran sekaligus sebagai tekanan agar Iran menghentikan program nuklirnya.
Namun mengingat krisis ekonomi yang tengah melanda Eropa sejak dua tahun lalu, Eropa sepakat untuk menunda implementasi penuh atas embargo minyak Iran sampai dengan 1 Juli mendatang.
Alhasil, benchmark minyak mentah lightsweet naik USD1,25 ke USD99,58 per barel di New York. Minyak mentah brent naik 72 sen menjadi USD110,58 per barel di London.
Harga gas juga naik lebih dari tujuh persen setelah salah satu produsen terbesar gas alam Amerika mengatakan akan memangkas produksi tahun ini. (mrt)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.