Ilustrasi. (Foto: Corbis)
JAKARTA - Bergejolaknya harga minyak dunia, menyebabkan pemerintah mungkin akan mengubah asumsi makro harga Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN-P 2012 nanti.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, perubahan asumsi tersebut nantinya akan berdasarkan perkiraan tren harga minyak tahun ini.
"Nanti kita bicarakan, tapi kalau kita melihat tren dan dihitung satu tahun, karena kan harga tidak bisa dilihat itu saja. Satu tahun itu seperti apa pergerakannya, dugaan saya akan di atas USD100 per barel," ungkapnya kala ditemui di kantornya, di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (21/2/2012).
Pasalnya, kenaikannya sudah di atas USD100 per barel melebihi dari 10 persen dari yang tetapkan pemerintah saat ini, yaitu USD90 per barel. "Kalau di atas USD100 per barel sudah lebih dari 10 persen, itu adalah salah satu dasar mengapa kita akan melakukan APBN perubahan," paparnya.
Menurutnya, perubahan ICP tersebut perlu dilakukan akibat konflik di Selat Hormuz saat ini yang menyebabkan harga ICP sudah mendekati USD120 per barel. Jika hal tersebut tidak dilakukan,maka postur APBN akan membengkak.
"Yang paling jelas itu perubahan terhadap ICP, dan perubahan itu trennya terus membengkak. ICP kita USD90 per barel, karena ada krisis di Selat Hormuz kemungkinan bergeser terus, sekarang sudah mendekati USD120 per barel kan," pungkasnya. (wdi)