JAKARTA - Tertahannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) di kisaran 5,75 persen telah menekan pergerakan rupiah. Akibatnya, rupiah bergerak di atas Rp9.200 per USD.
Pengamat ekonomi Ryan Kiryanto menilai, rupiah masih akan terjaga karena pemilik dana masih akan mau memegang rupiah. Hal ini, lantaran yield obligasi dalam rupiah masih lebih tinggi dibandingkan yield dalam dolar Amerika Serikat (AS).
Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi asal UGM Tony Prasetiantono mengungkapkan, kebijakan BI menurunkan BI rate tahun lalu merupakan sebuah kesalahan.
"BI menyadari bahwa kebijakan menurunkan BI rate terlalu cepat akhir tahun lalu. Ini memberikan tekanan yang cukup berat ke kurs rupiah. Kini rupiah tertekan di atas Rp9.200 per USD," kata Tony lewat pesan singkatnya kepada Okezone, Kamis (10/5/2011).
Dia mengungkapkan, untuk menjaga agar rupiah tidak merosot lebih jauh. Selain melakukan intervensi memasok valas, BI harus berupaya menyerap likuiditas.
Sekadar informasi, rupiah ditutup bergerak mixed sore ini. Bloomberg mencatat rupiah menguat 82 poin terhadap dolar AS dan diperdagangkan di kisaran Rp9.180 per USD dengan rata-rata perdagangan hariannya Rp9.180-Rp9.268 per USD.
Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah diperdagangkan dengan kurs tengah Rp9.247 per USD atau melemah 22 poin dari sebelumnya Rp9.225 per USD, dengan kisaran pergerakan Rp9.201-Rp9.293 per USD.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.