Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dolar AS Masih Akan Tekan Emas & Minyak

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Selasa, 15 Mei 2012 |13:34 WIB
 Dolar AS Masih Akan Tekan Emas & Minyak
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
A
A
A

JAKARTA – Perdagangan komoditas emas dan minyak mentah diprediksi masih akan tertekan. Pasalnya, tingginya sentimen risk aversion (alih risiko) telah melambungkan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai para pelaku pasar keuangan global masih khawatir dengan situasi di zona euro yang memungkinkan program penyelesaian krisis utang Eropa yang sudah dirintis akan menemui hambatan yang berpotensi meningkatkan ketidakpercayaan pasar pada ekonomi Eropa.

Sementara, fokus lainnya yakni akan dirilisnya beberapa data fundamental penting di Eropa yaitu data pertumbuhan GDP dari Jerman, Prancis, Italia, dan zona euro serta survei sentimen ekonomi Jerman dan zona euro dari lembaga survei ZEW.

"Pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan penting karena para pelaku pasar ingin melihat seberapa besar dampak krisis utang Eropa terhadap negara anggotanya," ungkap dia dalam risetnya, Selasa (15/5/2012).

Dia mengatakan, Jerman sebagai negara dengan ekonomi terbesar dan motor dari zona euro akan menjadi indikator penting. "Jika GDP kuartal I Jerman ini terpuruk di bawah prediksi para ekonom sebesar 0,1 persen, akan menjadi konfirmasi bagi pasar bahwa ekonomi Eropa benar-benar terpuruk dan berpotensi meningkatkan sentimen risk aversion," tambah dia.

Ariston menambahkan, tekanan bearish masih sangat besar di pasar meski tanda-tanda oversold atau jenuh jual pada indikator oscillator di grafik emas dan minyak mentah WTI telah tampak.

Menurutnya, Konsolidasi harga di dekat level rendah ini mungkin terjadi, namun harga emas masih berpeluang untuk mencoba menguji level support kuat di dekat USD1.522 per troy ons, dalam beberapa hari ke depan. Resisten terdekat di USD1.572 per troy ons.

"Sementara harga minyak mentah WTI masih berpotensi untuk menguji level USD93 per barel dengan support kunci di level USD92.30 per barel. Resisten di USD98.30 per barel," tukas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement