Mat Suhan, si Tukang Becak yang Jadi Juragan Jagal Sapi

Sabtu, 01 Desember 2012 14:28 wib | -

Ilustrasi (Foto: Okezone) Ilustrasi (Foto: Okezone) JAKARTA - Mat Suhan adalah seorang tukang becak yang mangkal di alun-alun Kota Malang, Jawa Timur.  Terdorong untuk meningkatkan derajat hidup, kemudiaan dia berjualan daging sapi di Pasar Dinoyo dengan menyewa lapak berukuran dua meter persegi. Kini, Mat Suhan telah menjadi Juragan daging sapi dengan omset sehari sekira Rp10 Juta.

Sangat menarik mengamati sejarah hidup Mat Suhan. 10 tahun lalu, dia memulai semua itu betul-betul dari bawah, yaitu dari hanya seorang tukang becak. Dia berasal dari Tumpang, sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, kemudian merantau ke Kota Malang dan menjadi seseorang tukang becak yang mangkal di alun-alun Kota Malang. Pada malam hari pelanggannya terutama pada pekerja seks komersial (PSK) jalanan yang mangkal di alun-alun. Sudah biasa Mat Suhan mengantar mereka ke losmen-losmen tempat melakukan kegiatan prostitusi.

Lepas dari pekerjaan sebagai penarik becak, Mat Suhan kemudian menikah dan tinggal di Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau. Awalnya dia bekerja serabutan mulai dari kuli bangunan sampai mencarikan rumput serta memelihara sapi tetangga. Dengan ketekunannya dia bisa memiliki sapi sendiri dan mulailah menjadi ”blantik sapi”, yaitu jual beli sapi hidup dan juga menggemukkan sapi untuk diperdagangkan di pasar hewan. Dia juga menjual sapi warga karena di desa tersebut banyak penduduknya yang juga memelihara sapi untuk investasi dan diperdagangkan.

Dari situlah akhirnya Mat Suhan mulai punya keberanian untuk berdagang daging sapi dengan modal terbatas dan mengontrak sebuah lapak di Pasar Dinoyo. Dia yakin berdagang daging sapi sebenarnya cukup menguntungkan apalagi kalau yang dijual adalah sapinya sendiri. Dan memang, pilihannya tidak salah. ”Saya akhirnya menyewa lapak kecil di pasar untuk berjualan daging sapi. Sebelumnya saya sudah pelajari seluk beluk usaha ini,” ujarnya.

Kegiatan Mat Suhan sehari-hari adalah berdagang daging sapi di Pasar Dinoyo, Malang. Rutinitasnya dimulai pada pukul 01.00 dini hari menyembelih sapi, di mana proses ini memakan waktu sekitar satu hingga dua jam. Kemudian pukul 05.00 WIB sudah berada di Pasar Dinoyo, sampai sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah itu, istrinya yang menjaga lapaknya di di pasar sampai tutup sekitar pukul 11.00-12.00 WIB.

Dalam sehari Mat Suhan minimal menyembelih 1 ekor sapi seharga Rp9-10 Juta dengan bolot hidup sekitar 480 kilogran. Jumlah tersebut adalah omset normal atau minimal karena terkadang saat musim banyak orang mempunyai hajat semisal pernikahan disembelih bisa menghasilkan laba bersih rata-rata Rp1 juta dalam sehari.

Uniknya, dia pernah mendapatkan sapi yang lumpuh. Istilah dalam bahasa orang yang berkecimpung dalam bidang ternak, sapi ini disebut ”sapi roboh”. Jika medapatkan sapi roboh, merupakan berkah tersendiri bagi orang-orang yang menjual daging sapi.

”Sapi roboh” ini bukan sapi yang sakit sehingga dagingnya tidak sehat. Namun secara fisik dia tidak bisa berdiri karena keseleo atau mengalami hal sejenis yang mengakibatkan tidak bisa berdiri. Sehingga bagi perternak kesulitan untuk menjual ke pasar hewan atau sesama pedagang sapi.

Jika harga normal sapi sekira Rp10 Juta, namun ”sapi roboh” bisa di beli dengan harga Rp5-6 juta. Padahal kalau disembelih akan menghasilkan sama dengan sapi normal sehingga bisa mendapatkan keuntungan minimal Rp5-6 juta. Perdagangan daging sapi atau lazim disebut jagal sapi ini cukup berkembang dan menghasilkan keuntungan yang banyak.

Sekitar tujuh tahun lalu, Mat Suhan masih mengontrak lapak berukuran dua meter persegi. Saat itu , dia masih membeli daging dari tukang jagal atau pedagang daging lain karena modal maupun penjualannya masih kecil, serta belum memiliki sarana prasarana seperti rumah potong atau tempat penyembelihan.

Mat Suhan sangat yakin atas usahanya tersebut dan keinginanya adalah bisa naik kelas dari sekedar membeli daging dari jagal bisa naik kelas menjadi jagal sapi sendiri. Untuk itu, dia membutuhkan tambahan modal yang akhirnya dia mendapat pinjaman dari satu lembaga keuangan sebesar Rp50 juta.

Dengan pinjam modal tersebut Mat Suhan sudah bisa menjadi jagal sapi sendiri sehingga penjualan dagingnya juga semakin meningkat. Selain untk dijual sendiri, dia juga melayani pedagang lain yang membeli daging ke dirinya. ”Pinjaman tersebut bisa saya bayar sampai lunas dan tidak pernah terlambat,” ungkapnya, dalam buku Rahasia Sukses Pengusaha Tahan Banting, di bawah binaan Permodalan Nasional Madani (PMN).

Diawali 2010 lalu, Mat Suhan bertemu petugas pemasaran UlaMM Unit Dinoyo Malang. Pertemuan tersebut tidak disengaja, yaitu saat Mat Suhan mengantar daging pesanan tetangga rumah petugas UlaMM tersebut, untuk keperluan hajatan keluarga. Keduanya sudah saling kenal sebelumnya.

Dari pertemuan tersebut keduanya kemudian ngobrol dan saling menceritakan perjalanan hidup masing-masing. Saat itulah, petugas pemasaran UlaMM tersebut menawarkan kembali pinjaman dan ternyata Mat Suhan tertarik untuk mendapatkan pinjaman modal dari ULaM. Mat Suhan mengundang petugas UlaMM untuk datang ke rumahnya untuk menidaklanjuti rencana pinjaman tersebut sekaligus melakukan survey atau kelayakan usahanya.

Sungguh menakjubkan. Rumahnya yang dulunya saat dikunjungi petugas UlaMM sebelumnya hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana, telah berubah menjadi sebuah rumah megah dengan kualitas bangunan yang bagus. Di belakang rumahnya terdapat sebuah halaman yang digunakan sebagai kandang dan saat itu di huni sekitar 15 ekor sapi yang kebanyakan sapi jenis Limousine seharga Rp10-15 juta per ekor. Dia juga sudah membangun sebuah rumah potong hewan sendiri, yang beralokasi tidak jauh dari rumahnya.

Mat Suhan juga sudah mempunyai beberapa aset berupa tanah kosong di sekitar tempat tinggalnya yang ditanami bawang merah, sungguh sebuah keberhasilan yang cukupu pesat, yaitu hanya dalam waktu relatif singkat Mat Suhan telah berhasil memiliki sejumlah aset dari kegiatan usahanya berjualan daging sapi. Tapi dia tetaplah orang yang sederhana seperti dulu.

Kini, Mat Suhan sudah cukup sukses secara materi. Dia juga memiliki 15 ekor sapi ukuran besar yang dipelihara di belakang rumahnya. Dia juga memiliki rumah potong sendiri dan juga beberapa lahan tanah di sekitar rumahnya yang ditanami sayuran produktif.

Mat Suhan adalah salah satu contoh bagaimana dari orang yang dulunya no one telah menjadi some one. Sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga dan patut dijadikan contoh mengenai ketekunan, jeli melihat peluang, serta bekerja keras dan komitmen menjalankan usaha. Semua itu terbukti membuahkan hasil yang manis.
(//gnm)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป