Transmigrasi akan Kembangkan Swasembada Sapi

Minggu, 02 Desember 2012 21:54 wib | Neneng Zubaidah - Koran SI

Ilustrasi. (Foto: Koran SI) Ilustrasi. (Foto: Koran SI) JAKARTA - Menanggapi kelangkaan daging sapi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) akan mengembangkan swasembada sapi di lokasi transmigrasi.

Dirjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2KT) Kemenakertrans Jamaluddien Malik mengatakan, pihaknya sudah membicarakan dengan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk mengembangkan peternakan sapi di beberapa lokasi transmigrasi.

Salah satu daerah yang akan menjadi proyek pengembangan ialah di Gorontalo karena produksi jagung di Gorontalo yang melimpah untuk dijadikan pakan ternak supaya menghasilkan sapi yang berkualitas super.

Jamaluddien optimistis tahun depan pengembangan swasembada sapi di lokasi transmigrasi dapat dikembangkan mengingat kelangkaan daging sapi yang menyebabkan harganya naik hingga Rp100 ribu per kilogram (kg) sudah semakin mengkhawatirkan. Selain itu swasembada sapi di lokasi transmigrasi diyakini akan berhasil mengingat di era Presiden Soeharto lokasi transmigrasi potensial untuk peternakan sapi namun sayangnya kurang diperhatikan.

"Gorontalo itu daerah yang bagus. Dulu saat saya bekerja di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) sapi yang dikembangbiakkan gemuk-gemuk," katanya usai Pelepasan Pemberangkatan 235 Transmigran ke Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara, Minggu (2/12/2012).

Dia menyatakan, tahun depan diusulkan penambahan anggaran transmigrasi sebesar Rp4 triliun. Dia perkirakan dana itu cukup untuk pengembangan lokasi transmigrasi untuk swasembada pangan dan sapi. Pasalnya, kementerian tahun depan tidak memfokuskan diri untuk penambahan jumlah transmigran yang akan dikirim melainkan perbaikan sarana prasana seperti lahan dan infrastruktur jalan, jembatan dan pasar. Jaminan hidup bagi para transmigran seperti makanan pokok serta pembagian bibit tanaman untuk lahan usaha juga akan diperbanyak.

Jamaluddien menerangkan, jumlah transmigran yang akan diberangkatkan tahun depan hanya 6.200 kepala keluarga (KK) dan 1.000 KK cicilan untuk ditempatkan tahun depan. Jumlah ini menurun sangat signifikan dari tahun ini yang menargetkan 9.000 KK. Pemerintah menjamin transmigran akan sukses di daerah penempatan karena selain diberi jaminan hidup selama setahun mereka juga akan dapat bekerja di perusahaan sekitar.

Sementara 235 KK transmigran yang kemarin diberangkatkan ialah para calon transmigran yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung terdiri dari 150 KK yang akan ditempatkan di Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah dan sisanya 85 KK akan ditempatkan Kabupaten Konawe Utara, Konawe Selatan dan Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.

"Setiap calon transmigran yang berasal dari berbagai daerah asal sudah melalui proses panjang. Mulai dari kegiatan promosi, pendaftaran, seleksi, pelatihan dasar umum, dan fasilitasi pemberangkatan dari desa asal atau titik kumpul, hingga ke lokasi tujuan di kawasan transmigrasi," urainya.

Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning berpendapat, pengembangan lokasi transmigrasi sebagai sentra pangan dan peternakan harus dijalankan dengan politik anggaran yang lebih baik sehingga mensejahterakan para transmigran. Politikus dari Fraksi PDIP ini menjelaskan, pengembangan swasembada ini memang potensial dilakukan di lokasi transmigrasi namun pemerintah jangan lupa untuk menyelesaikan kasus permasalahan lahan yang kerap terjadi baik itu sengketa maupun jatah lahan yang belum diberikan.

Ribka menyatakan, sesuai aturan UU No 29/ 2009 tentang Ketransmigrasian Pasal 13 Transmigrasi Umum berhak memperoleh bantuan dari Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah berupa Lahan Usaha dan Lahan Tempat Tinggal beserta rumah dengan status Hak Milik.

"Pelatihan bagi transmigran sebelum berangkat mesti diberikan agar mereka tahu bagaimana bagaimana mengembangkan lahan usaha untuk pangan dan peternakan," ujarnya.

Calon Transmigran dari Sukarjo yakni Sri Rahardjo optimistis akan ada perubahan hidup baru setelah menempati lokasi transmigrasi di Katingan nanti. Dia mengaku, jika bertahan di desanya yakni di Desa Parang Joro kemiskinan masih akan menyelimutinya pasalnya dia hanya bekerja sebagai buruh di pabrik kayu. Sementara jika dia menjadi transmigran dia akan mendapatkan jaminan hidup serta lahan usaha.

"Kami akan mengolah lahan sawit. Meski pada saat bimbingan kami diinfokan listrik dan air masih terkendala saya tetap optimistis kehidupan saya akan lebih baik disana," tuturnya. (Neneng Zubaidah/Koran SI/ade)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป