MAKASSAR - Persediaan bahan pokok dan BBM di Sulawesi Selatan cukup tersedia untuk menyambut bulan suci Ramadan 1434 H. Pemerintah setempat menyatakan siap bilamana terjadi lonjakan harga di daerah-daerah tertentu akibat meningkatnya konsumsi.
“Kita melakukan pengendalian barang melalui FKPPI (Forum Komunikasi Pemantauan dan Pengendalian Inflasi) Provinsi Sulsel mencakup perhitungan stok dan distribusi,” kata Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang kepada wartawan di Makassar, Senin (8/7/2013).
Agus menuturkan, khususnya sembako (sembilan bahan pokok) tidak boleh langka. Di Sulsel stok sembako dan BBM dinilai cukup tersedia. Setiap saat ketersediaan tersebut bisa dikirim ke titik-titik di masing-masing daerah tertentu di mana terjadi lonjakan kebutuhan.
“Begitu juga BBM, sebelum kenaikan harga saya sudah minta kepada GM Pertamina agar tolong diperhatikan jangan sampai terjadi antrean di pom bensin (yang dapat) menjadi kepanikan di masyarakat nanti. Dan permintaan itu mereka sanggupi. Alhamdulillah sampai sekarang lancar-lancar saja,” lanjut Agus.
Menurut Agus, kondisi perekonomian Sulsel dibanding rata-rata provinsi lain di Indonesia lebih baik. Bahkan, tingkat inflasi Sulsel untuk triwulan II-2013 sudah di bawah nasional dibanding triwulan pertama yang masih sedikit di atas nasional. “Untuk di Sulsel, terkait dengan kebutuhan bahan pokok masyarakat, semua tersedia,” sambung Agus.
Menyinggung tentang pertumbuhan ekonomi Sulsel yang cenderung melambat, Agus mengungkapkan bahwa pertumbuhan melambat terutama dalam skala besar seperti sektor pertambangan khususnya nikel karena harga nikel dunia sedang menurun. Sedangkan di basis pertanian sama sekali tidak ada masalah.
“Jadi dalam skala besar saja kelihatan ada perlambatan, tapi itu dipengaruhi harga nikel yang menurun dan produksinya menurun. Permintaan juga agak menurun karena (importir seperti) China punya stok (juga),” imbuh Agus.
Dia juga menepis anggapan bahwa tingkat inflasi di Sulsel juga dipengaruhi bahan tambang, melainkan turunnya harga dan produksi tambang hanya berpengaruh terhadap volume ekspor saja.
(Widi Agustian)